Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

LPCR.OR.ID – Pada tahun 1920, beberapa priyayi Ponorogo yang mengagumi Persyarikatan Muhammadiyah antara lain; Kasan Muhammad, Karsodiwiryo, Jan Ali Diwiryo, dan Karso berangkat ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Kiai Ahmad Dahlan. Mereka disambut dengan ramah. Dalam pertemuan tersebut, mereka berdiskusi tentang rencana pendirian Muhammadiyah di Ponorogo. Kiai Ahmad Dahlan memberikan syarat, bahwa pendirian Muhammadiyah harus memiliki tujuh orang pengurus dan sedikitnya dua puluh orang anggota. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, ditunjuklah keluarga dari para tokoh tersebut sebagai pengurus. Akhirnya, terbentuk tujuh orang pengurus dan dua puluh dua orang anggota.

Dengan terpenuhinya persyaratan tersebut, terbitlah Surat Keputusan pada 22 Februari 1922 dengan jumlah anggota sebanyak 22 orang. Muhammadiyah Ponorogo kemudian membentuk Cabang pada 1 Juli 1928 berdasarkan SK Nomor 22. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ponorogo memiliki 21 ranting yang tersebar di 19 kelurahan, serta mengelola 30 masjid dan 16 musala.

PCM cukup aktif dalam menghidupkan PRM. Salah satunya dilakukan oleh Majelis Tabligh melalui pelatihan bagi mubalig dari setiap ranting, dengan jumlah minimal dua orang per ranting. Selain itu, pembinaan Tarjih dan kajian rutin diselenggarakan oleh PCM setiap hari Sabtu pada minggu terakhir di Masjid Daarul Hikmah. Seluruh PRM diwajibkan hadir, termasuk unsur ortom, AUM, dan PRA. Sebaliknya, kegiatan PRM juga dihadiri dan didampingi oleh PCM.

PCM juga melakukan pembinaan kelompok tani untuk memanfaatkan lahan sempit di wilayah perkotaan melalui program JATAM. Kegiatan ini meliputi penanaman padi, ketela, jagung, cabai, dan terong. Beberapa program yang dilakukan antara lain pelatihan penanaman padi organik serta kerja sama dengan Masjid Baitul Mukhlisin dalam penanaman melon kuning super.

Pada bidang peternakan, PCM menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan ternak ayam daging, ayam petelur, bebek pedaging, serta kambing texel. Sementara itu, pada bidang perikanan dilakukan kegiatan pembibitan dan pembesaran ikan lele. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan JATAM dan melibatkan sekitar 650 orang dalam proses pendampingan. Para peserta tidak hanya terlibat dalam kegiatan pembibitan dan pembesaran, tetapi juga dalam pengolahan hasil, pemasaran, serta pengembangan jaringan usaha.

Bidang Ekonomi

PCM memiliki beberapa toko klontong setara dengan mini market yaitu, Surya Mart.Selain itu juga ada Rumah Potong Unggas (RPU) HALALMU yang telah tersertifikasi halal. Ranting memotong hasil ternaknya di RPU tersebut. Ke depan, masing-masing ranting direncanakan memiliki outlet RPU sendiri. RPU menampung hasil unggas yang disebarkan dan diternakkan oleh PRM. Saat ini, RPU PCM memiliki 6 orang karyawan. Latar belakang pendirian RPU adalah untuk memastikan kehalalan hewan yang dipotong. RPU PCM melayani kebutuhan unggas untuk RS Umum, RSA, RSM, tiga MBG, serta masyarakat umum. Kehadiran RPU ini menjawab kebutuhan masyarakat Ponorogo akan rumah potong unggas yang terjamin kehalalannya.

Banyak warga yang memilih menggunakan jasa RPU Muhammadiyah karena kehalalan proses penyembelihannya terjamin dan telah tersertifikasi halal, sehingga memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi konsumen. Selain itu, RPU Muhammadiyah menerapkan proses kerja yang higienis dan profesional dengan tenaga terlatih. Kepercayaan masyarakat juga diperkuat oleh reputasi Muhammadiyah sebagai organisasi yang amanah dan bertanggung jawab. RPU ini mampu melayani berbagai kebutuhan, mulai dari rumah sakit, lembaga, program MBG, hingga masyarakat umum, sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi umat. Kehadiran RPU Muhammadiyah pun menjawab kebutuhan masyarakat akan rumah potong unggas yang halal, terpercaya, dan berkualitas.

Pembinaan Masjid dan Musolla

Ketika ada Masjid PRM yang tidak terawat, manajemen keuangannya kurang baik, atau perawatan lingkungannya kurang memadai, PCM melakukan pendampingan. Dukungan diberikan dalam berbagai bentuk sesuai dengan masalah yang muncul, termasuk bantuan pendanaan untuk masjid.

Saat ini, PCM memiliki 30 masjid dan 16 musolla. Semua musolla telah dipasang plang, dan PCM sedang giat mengurus IMB ke pemerintah kabupaten. Sebelumnya, hanya dua masjid yang memiliki IMB; ke depannya, semua masjid diharapkan memiliki IMB. Beberapa masjid sempat hilang dari naungan Muhammadiyah karena oknum yang membuat sertifikat baru. Setelah kejadian tersebut, Majelis Wakaf menempelkan pengumuman di dinding masjid bertuliskan: “Masjid Milik Wakaf Muhammadiyah.”

Orang-orang suka beribadah di Masjid Muhammadiyah Ponorogo karena masjid ini selalu terjaga kebersihannya dan dikelola dengan baik, mulai dari manajemen keuangan hingga jadwal kegiatan ibadah. Fasilitas yang lengkap, seperti tempat wudhu yang bersih, mushaf Al-Qur’an, dan area shalat yang luas, membuat jamaah nyaman. Selain itu, masjid aktif menyelenggarakan pengajian, kajian, pendidikan anak, dan kegiatan sosial, sehingga jamaah tidak hanya beribadah tetapi juga menambah ilmu dan berinteraksi dengan komunitas. Suasana yang aman, ramah, dan penuh rasa kekeluargaan, ditambah citra Muhammadiyah yang mengedepankan akhlak, transparansi, dan nilai pendidikan Islam modern, membuat orang merasa betah dan percaya beribadah di masjid ini.

Salah satu contohnya adalah Masjid Baitul Mukhlisin, yang terletak di Jalan Lawu, Kelurahan Nologaten, Ponorogo. Ia menjadi wakil kebanggaan daerah setelah meraih Juara I Masjid Unggul Nasional dalam ajang Cabang Ranting dan Masjid (CRM) Award VI tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Keberhasilan ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga pengakuan atas komitmen dan inovasi pengelolaan masjid. Takmir Masjid Baitul Mukhlisin selalu berupaya memakmurkan masjid dengan mengembangkan berbagai program yang memberikan manfaat luas bagi jamaah dan masyarakat, tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan. Di antaranya adalah program pelayanan makanan gratis setiap Jumat, kegiatan kesehatan masyarakat seperti senam tera, serta kajian rutin yang melibatkan jamaah aktif.  Prestasi ini disambut dengan bangga oleh masyarakat Ponorogo, bahkan dirayakan melalui penyambutan meriah saat rombongan dari Ponorogo kembali ke kota setelah menerima penghargaan tersebut.  Masjid Baitul Mukhlisin kini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah masjid bisa menjadi pusat spiritual sekaligus ruang pemberdayaan umat, membawa dampak positif yang dirasakan oleh banyak orang di sekitarnya.

Bidang Pendidikan

Pembinaan sekolah dilakukan melalui pemberian beasiswa kepada siswa, yang semua dikelola melalui LAZISMU Ponorogo. Terdapat perhatian khusus terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, karena ada kekhawatiran dari orang tua mengenai pendidikan anak mereka. Muhammadiyah Ponorogo memiliki sekolah untuk anak berkebutuhan khusus tingkat SMP dan SMA, sedangkan untuk tingkat SD sudah tersedia juga.

Guru-guru dipersiapkan secara profesional khusus untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Saat ini, PCM memiliki 10 guru yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus. MPKS Sosial melakukan pelatihan dan pengurusan jenazah bagi warga Muhammadiyah untuk memastikan bahwa perawatan jenazah dilakukan dengan baik. Saat ini, tim pengurusan jenazah sudah berjumlah 18 orang, terdiri dari 12 laki-laki.

PCM memiliki beberapa lembaga pendidikan, yaitu:

  • 5 PAUD
  • 15 MADIN
  • 12 TK
  • 2 SD
  • 3 SMP dan MTS
  • 3 SMA, SMK, dan MA
  • 1 Pondok Tahfidz Qur’an

Beberapa sekolah telah dirintis sejak 1928. Semangat perintisan ini dilatarbelakangi oleh pandangan Muhammadiyah bahwa pemerintah sering kali kewalahan dalam mengelola pendidikan, termasuk memberantas buta huruf yang masih marak. Sekolah-sekolah Muhammadiyah menawarkan biaya yang terjangkau, pendidikan agama yang baik, serta orientasi pada praktik.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah di Ponorogo banyak diminati warga karena kurikulum dan pendidikan agamanya dinilai berkualitas, sesuai dengan paham keagamaan masyarakat Ponorogo. Sekolah Muhammadiyah menggabungkan mata pelajaran agama dan umum.

Biaya pendidikan relatif terjangkau. Muhammadiyah Ponorogo bekerja sama dengan IPB Bogor untuk mengirimkan alumni siswanya ke kampus tersebut. Khusus untuk SMK Muhammadiyah, terdapat jaringan kerja sama dengan Jerman untuk kuliah dan pelatihan industri, serta kerja sama dengan pengelola kampus di Cina. Selain itu, terdapat alokasi beasiswa bagi siswa yang tidak mampu. Saat ini, ada 90 siswa yang menerima Beasiswa Mentari dari KL LAZISMU Ponorogo.

Sosial dan Ekonomi

PCM sudah memiliki lima panti, yaitu empat panti anak dan satu panti lanjut usia. Total penghuni mencapai 100 anak asuh dalam dan 60 anak asuh luar. Muhammadiyah bekerja sama dengan Dinas Sosial Ponorogo untuk membina mereka, termasuk menangani masalah anak yang berhadapan dengan hukum, salah satunya adalah santri Gontor.

PCM memiliki dua Surya Mart, sementara Panti Asuhan Nyi Ahmad Dahlan juga memiliki satu Surya Mart. Selain itu, mereka memproduksi batik tulis Ponorogo, membudidayakan lele, dan mengemas produknya dalam bentuk lele unggul yang lebih enak dan bernilai jual tinggi. PCM juga memiliki satu toko material bangunan, serta perusahaan penyedia tenaga kerja kebersihan untuk rumah sakit, sekolah, masjid, musholla, dan rumah tangga. Selain itu, terdapat tim konstruksi yang membangun masjid dan sekolah.

PCM mengembangkan sistem keuangan syariah untuk pinjaman tanpa bunga yang dinamakan KASMU. Sistem ini dijalankan di masjid dan khusus diperuntukkan bagi CAK SOPA (tukang becak, tukang sol sepatu, tukang parkir, dan jamaah). Untuk ranting, sistem ini dikelola melalui KL LAZISMU Ponorogo.

PCM Ponorogo menyediakan jasa kebersihan bagi rumah sakit, rumah tangga, dan perkantoran sebagai bentuk dakwah sosial dan amal usaha yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus menjawab kebutuhan akan lingkungan yang bersih dan sehat. Layanan ini juga bertujuan menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian ekonomi organisasi, serta mendukung keberlangsungan kegiatan dakwah dan sosial secara profesional dan amanah.

Bidang Kesehatan

PCM memiliki RS Muhammadiyah tipe C dengan 150 kamar. Ada program filantropi, yaitu memanfaatkan 2,5% dari pendapatan yang diserahkan ke LAZISMU untuk membantu pasien yang tidak mampu dan tidak memiliki BPJS. PCM juga memiliki dua klinik umum di dua kecamatan lain, yaitu Balong dan Babadan. Saat ini, sedang dilakukan pengembangan RS melalui kerja sama dengan Lembaga Konstruksi milik PCM.

Semua karyawan RS wajib aktif dalam pembinaan ranting masing-masing. Seluruh karyawan adalah anggota Muhammadiyah. Rekrutmen karyawan AUM dilakukan melalui open recruitment, dengan panitia dan musyawarah untuk pemilihan PCM selalu diikutsertakan. Semua karyawan diwajibkan mengikuti Darul Arqom. RS telah memperoleh Standarisasi Istimewa Intang 5 PP Muhammadiyah. Zakat dan infak dari karyawan AUM disalurkan melalui LAZISMU.

Orang cenderung memilih berobat di RS Muhammadiyah karena pelayanan yang diberikan mengedepankan nilai-nilai Islami dan kemanusiaan, sehingga pasien merasa dihormati, nyaman, dan diterima dengan baik. Selain itu, RS Muhammadiyah memiliki program filantropi melalui LAZISMU yang membantu pasien kurang mampu atau yang tidak memiliki BPJS, sehingga masyarakat merasa terbantu secara finansial. Tenaga medis yang profesional dan fasilitas yang lengkap, termasuk ruang rawat inap dan klinik umum di beberapa kecamatan, membuat pasien merasa aman dan percaya terhadap kualitas pelayanan. Semua karyawan aktif mengikuti pembinaan dan pelatihan seperti Darul Arqom, sehingga pelayanan tidak hanya profesional tetapi juga bermoral. Reputasi RS yang baik dan pencapaian standar tertentu, seperti Standarisasi Istimewa Intang 5 PP Muhammadiyah, semakin menegaskan kualitas layanan yang diberikan.

Tantangan

Kaderisasi PCM menghadapi kendala karena kekurangan anak muda yang terlibat dalam pengembangan organisasi. Sulit melibatkan anak muda karena mereka jarang ditempatkan pada posisi strategis. Kaderisasi dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti camping, outbond, dan memberikan kesempatan kepada ortom untuk menjalankan kegiatan Muhammadiyah. Kegiatan-kegiatan Muhammadiyah akan dijalankan oleh anak-anak muda, yang diberikan kesempatan untuk berperan aktif.

Selain itu, banyak jabatan politik (Kepala Desa, DPRD, Pengawasan Desa, RT, dan RW) yang belum banyak diisi oleh kader Persyarikatan Muhammadiyah. Solusinya adalah memberikan pendidikan politik bagi warga Muhammadiyah.

Harapan

Diharapkan ada kader Muhammadiyah yang dapat didorong untuk menduduki jabatan politik di pemerintahan. Selain itu, pengembangan jumlah dai Muhammadiyah perlu ditingkatkan, dan secara politik diharapkan muncul kader yang mampu memimpin dan berperan aktif di masyarakat.

Penutup

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ponorogo terus mengembangkan diri melalui strategi terpadu yang memadukan kaderisasi, pembinaan keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Meskipun generasi muda belum sepenuhnya diberdayakan sebagai pemimpin utama, masjid dan musala telah dikelola secara optimal sebagai pusat ibadah, kajian keislaman, serta pemberdayaan umat.

Di bidang pendidikan, PCM Ponorogo mengelola sekolah inklusif mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, termasuk layanan bagi anak berkebutuhan khusus, yang didukung oleh tenaga pendidik profesional serta program beasiswa melalui LAZISMU. Penguatan ekonomi umat diwujudkan melalui pengelolaan RPU halal, Surya Mart, berbagai produk unggulan, dan sistem keuangan syariah. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan juga dikembangkan melalui pelatihan berkelanjutan dan pendampingan berbasis komunitas. Sementara itu, rumah sakit dan klinik Muhammadiyah menghadirkan layanan kesehatan yang Islami, humanis, dan berorientasi pada filantropi bagi masyarakat kurang mampu.

Keberhasilan PCM Ponorogo tidak terlepas dari kiat dan strategi pengelolaan organisasi yang menekankan perencanaan program yang matang, pembagian tugas yang jelas, kepemimpinan kolektif-kolegial, serta manajemen yang transparan dan akuntabel. Sinergi antar-majelis, amal usaha, dan kader menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pelayanan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Dengan dukungan fasilitas yang memadai dan reputasi yang terpercaya, PCM Ponorogo menjelma sebagai pusat inovasi dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang inspiratif.

Saat ini PCM Ponorogo diampu oleh Bambang Dri Atmojo, Winarno, Joko Lelono, Edy Widodo, Badrudin Muhtar, Yusuf Suyoto, Azis Riyat Hizbullah, Badri Sukatmiran, Muhajir, dan drg. Yudi. Berkat kerja kolektif dan strategi pengelolaan yang efektif, PCM Ponorogo berhasil meraih Juara I Cabang Ranting Award Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh LPCRPM PP Muhammadiyah di Banjarmasin.

Bagikan