LPCR.OR.ID – Beberapa wilayah di Indonesia menjadikan salak sebagai komoditas unggulan serta sebagai sumber penghidupan masyarakat, salah satunya adalah Desa Wonokerto, Turi. Melimpahnya hasil panen salak di kawasan ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai buah segar, tetapi juga telah dikembangkan menjadi berbagai produk olahan oleh warga setempat.
Berangkat dari potensi tersebut, mahasiswa asal Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mubaligh Hijrah (KKN MH) menggagas pembuatan video dokumenter tentang potensi salak di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi. Program ini juga melibatkan anak-anak dan pemuda desa untuk memperkenalkan komoditas unggulan daerah tersebut kepada masyarakat luas.
Dalam video dokumenter ini, anak-anak akan menceritakan potensi salak yang dimiliki desa mereka sebagai komoditas unggulan. Sejalan dengan program studi Ilmu Komunikasi yang dipelajari mahasiswa KKN, anak-anak dilatih untuk berani bercerita di depan kamera sekaligus mengembangkan berbagai kemampuan dasar public speaking, mulai dari pengucapan vokal dan konsonan hingga mencoba menggunakan bahasa Inggris sederhana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN Mubaligh Hijrah yang diinisiasi oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) selama 25 hari di bulan Ramadhan. Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta turut berkontribusi dengan mengirimkan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah yang ditentukan.
Kegiatan yang berlangsung di bulan Ramadhan ini juga melibatkan komunitas remaja di Kecamatan Turi bernama Forum Anak Turi (FORARI). Keterlibatan ini bertujuan untuk melatih generasi muda dalam memperkenalkan daerah mereka kepada masyarakat luas. Selain menumbuhkan kemampuan komunikasi dan pemasaran sejak dini, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal anak-anak dalam mempromosikan potensi desa mereka sendiri di masa depan.
Desa Wonokerto, tepatnya di Dusun Nganggrung Lor, telah memiliki beberapa tempat pengolahan salak. Salah satu pelaku usaha olahan salak di Dusun Nganggrung Lor, Ibu Erna Purwaningsih, mengatakan bahwa usaha pengolahan salak yang dijalankannya telah dimulai sejak 2014. Ia memanfaatkan melimpahnya hasil panen salak di daerah tersebut untuk diolah menjadi berbagai produk makanan.
“Usaha ini saya mulai sejak tahun 2014 karena di sini komoditas utamanya memang salak. Jadi saya mencoba mengolahnya menjadi berbagai macam produk agar punya nilai tambah,” ujar Erna. Berbagai olahan salak yang diproduksi mulai dari dodol, wajik, geplak, keripik, hingga sirup salak. Meski demikian, ia mengaku masih menghadapi tantangan dalam memasarkan produknya, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital yang kini semakin berkembang. “Sekarang zamannya sudah canggih, tapi kami para ibu-ibu masih kesulitan kalau harus promosi lewat live atau media sosial,” jelas Erna.
Melalui pembuatan video dokumenter ini, mahasiswa KKN berharap potensi industri olahan salak di wilayah Turi ini dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, program ini juga merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan potensi desa sekaligus mendukung UMKM lokal agar mampu bersaing melalui pemanfaatan potensi salak sebagai produk unggulan daerah.
Upaya ini sejalan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, bekerja keras, serta membangun kehidupan masyarakat yang sejahtera. Dengan semangat tersebut, diharapkan masyarakat dapat bersama-sama mewujudkan lingkungan yang makmur dan berdaya, sebagaimana cita-cita baldatun thayyibatun warabbun ghafur.
Kontributor: Lutfi Nur Baiti*
Mahasiswi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
