Selasa, 27 Januari 2026
Suasana hangat dan penuh semangat terasa dalam SECARA (Sekolah Cabang Ranting) Nasyiah DIY Episode 9 yang digelar pada 27 Januari 2026. Menghadirkan aktivis lingkungan nasional, Hening Parlan, forum ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi kader Nasyiatul Aisyiyah tentang bagaimana sebuah kegiatan bisa bertumbuh menjadi gerakan perubahan sosial.
Dengan mengangkat tema “Dari Kegiatan ke Perubahan: Dokumentasi, Publikasi, dan Advokasi Sosial”, Bunda Hening mengajak kader Nasyiah untuk tidak berhenti pada seremoni, tetapi melangkah lebih jauh menuju dampak nyata.
Perempuan, Iman, dan Gerakan
Dalam pembukaannya, Hening Parlan menyampaikan kebahagiaannya dapat bertemu kader-kader muda perempuan. Baginya, perempuan selalu memiliki “titik sambung” dalam setiap isu sosial. Perempuan bukan sekadar pelengkap gerakan, tetapi garda terdepan perubahan.
Sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia serta Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan LLHPB PP Aisyiyah, kiprah beliau telah diakui secara internasional, termasuk menerima Planet Award dari Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pada 2024. Namun malam itu, ia hadir bukan untuk bercerita tentang penghargaan, melainkan tentang proses.
“Iman tidak berhenti di atas sajadah,” tegasnya. “Iman harus berjalan di desa, di sekolah, di pasar, dan di ruang-ruang publik.”
Gerakan Tidak Lahir dari Keramaian
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah perbedaan antara kegiatan dan gerakan.
Sering kali organisasi merasa sukses setelah menyelenggarakan acara yang ramai dan terdokumentasi dengan baik. Namun menurut Hening, perubahan sosial tidak lahir dari keramaian, melainkan dari proses panjang yang mengubah cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak.
Seremoni penting. Sosialisasi perlu. Tetapi itu hanyalah pintu masuk.
Mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11, ia mengingatkan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Artinya, perubahan sosial adalah buah dari kesadaran dan keberanian untuk bergerak.
Nasyiatul Aisyiyah, katanya, jangan hanya menjadi penyelenggara event. Jadilah penggerak perubahan.
Memahami: Dokumentasi, Publikasi, dan Advokasi
Materi inti malam itu mengupas secara konkret perbedaan antara dokumentasi, publikasi, dan advokasi tiga hal yang sering dianggap sama.
- Dokumentasi
Dokumentasi adalah merekam proses. Misalnya dalam isu sampah: memotret kegiatan pilah sampah, mencatat perubahan perilaku kader, menulis cerita proses sebelum dan sesudah program berjalan. Dokumentasi berfungsi sebagai pembelajaran dan rekam jejak perubahan.
- Publikasi
Publikasi adalah menyebarluaskan cerita tersebut. Bisa melalui Instagram, video pendek, artikel, atau kampanye digital. Tujuannya membangun narasi dan kesadaran publik.
- Advokasi
Advokasi melangkah lebih jauh. Ia berbicara tentang perubahan kebijakan. Misalnya, setelah kader melakukan gerakan pilah sampah, mereka menyusun rekomendasi untuk desa atau kecamatan, melakukan audiensi agar program lingkungan Nasyiah diadopsi menjadi kebijakan resmi.
“Advokasi itu punya seribu jalan,” ujarnya. Tidak selalu harus demonstrasi di luar pagar. Kadang perubahan terjadi dari dalam sistem—melalui dialog, rekomendasi, hingga perbaikan dokumen kebijakan.
Dari Ruang Kader ke Gerakan Nasional
Perubahan besar hampir selalu lahir dari bawah. Dari komunitas kecil. Dari ruang-ruang kader seperti SECARA.
Gerakan tidak selalu dimulai secara top-down. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif, mengalir dari desa ke kota, dari cabang ke wilayah, dari wilayah ke nasional.
Di titik inilah Nasyiatul Aisyiyah memiliki peran strategis: menjadi jalan panjang kader muda Muhammadiyah untuk merawat masa depan dan merawat bumi.
Tidak Boleh Berhenti Bergerak
Dalam sesi tanya jawab, seorang kader bertanya bagaimana caranya bangkit setelah lama tidak aktif di organisasi.
Jawaban Hening sederhana namun kuat: karier tidak pernah benar-benar tertinggal. Yang paling penting adalah membangun generasi. Setiap fase kehidupan punya prioritasnya. Tidak perlu merasa kalah atau terlambat.
Pertanyaan lain menyentuh soal kelelahan bergerak dan rasa ragu atas kualitas diri.
“Manusia hanya boleh berhenti bergerak ketika napasnya berhenti,” katanya. Selama masih bernapas, kita harus terus bergerak. Tinggal memilih: bergerak ke arah kebaikan atau sebaliknya.
Kepercayaan diri, lanjutnya, tumbuh dari dalam. Jangan kalah oleh perasaan tidak enak, minder, atau takut tertinggal.
Menjadi Jalan Perubahan
Menutup sesi, Hening Parlan mengingatkan bahwa Nasyiatul Aisyiyah tidak cukup hanya membangun program. Ia harus menjadi ekosistem perubahan.
Dari dokumentasi lahir pembelajaran.
Dari publikasi lahir kesadaran.
Dari advokasi lahir kebijakan.
Dan dari konsistensi lahir gerakan.
SECARA Nasyiah DIY Episode 9 bukan sekadar forum belajar, melainkan pengingat bahwa setiap kader memiliki potensi menjadi cahaya perubahan. Perubahan itu mungkin dimulai dari ruang kecil dari satu cerita, satu isu, satu aksi kecil tetapi dengan ketekunan, ia bisa mengalir menjadi gelombang besar.
Kini pertanyaannya bukan lagi, “Sudah berapa kegiatan yang kita buat?”
Melainkan, “Perubahan apa yang sedang kita bangun?”.
Simak SECARA Episode 9 di sini:
