LPCR.OR.ID – Masa remaja merupakan fase yang tidak hanya penuh perubahan, tetapi juga penuh pencarian makna. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, remaja membutuhkan pendekatan yang tidak sekadar mengajak, tetapi juga mampu menyentuh cara berpikir dan dunia mereka. Dalam hal ini, komunikasi dakwah menjadi kunci penting dalam membangun kembali keterlibatan remaja dalam kehidupan keagamaan.
Saat Remaja Mencari Arah di Tengah Pergulatan Diri
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa remaja. Masa remaja menurut Hurlock (1997) diartikan sebagai suatu masa transisi atau peralihan, yaitu periode di mana individu secara fisik maupun psikis berubah dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Isroani dkk (2023), dalam pandangan agama, seseorang yang telah memasuki masa remaja berada pada rentang usia 14 tahun sampai 24 tahun.
Miftahul Jannah (2016) menjelaskan bahwa mengkaji persoalan remaja berarti mengkaji permasalahan remaja, baik dari perilaku positif maupun negatif. Perilaku positif muncul ketika remaja mampu menyelesaikan tugas perkembangan sesuai dengan tahapan usianya. Sementara itu, perilaku negatif sering berkaitan dengan konflik dan perceraian orang tua, krisis identitas diri, pola pengasuhan yang terlalu bebas tanpa pengawasan dari orang terdekat seperti orang tua, serta tidak diterapkannya nilai-nilai keislaman.
Islam sangat memperhatikan remaja. Remaja dianjurkan untuk dekat dengan Allah melalui pelaksanaan rutinitas keagamaan seperti shalat berjamaah, mengaji, serta berkumpul dengan teman sebaya (peer group) dalam kegiatan positif guna mengembangkan kreativitas dan keterampilan, serta menumbuhkan sikap peduli dan empati kepada orang lain.
Namun, apabila dilihat lebih jauh, dalam Islam usia remaja merupakan usia yang sangat potensial. Tidak hanya memperhatikan pertumbuhan dan perubahan biologis, tetapi juga menjadi fase penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai akhlak, iman, dan pengetahuan.
Ketika Mushola Sunyi dan Ikhtiar Menghidupkan Kembali Suara Remaja
Salah satu rutinitas keagamaan yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan Remaja Masjid atau Mushola (Remais). Namun, belum semua masjid atau mushola memiliki Remais. Salah satunya adalah Mushola Az-Zumar di Dero, Condongcatur, Depok, Sleman, DIY. Belum terbentuknya Remais dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, salah satunya karena kesibukan masing-masing remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Selama 25 hari menjalani program mubaligh hijrah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY di Mushola Az-Zumar, penulis menemukan bahwa minat remaja setempat untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh mushola masih tergolong rendah. Meskipun terdapat beberapa remaja yang hadir, tetapi mereka belum saling mengenal secara dekat.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penulis sebagai mubaligh hijrah yang ditempatkan di mushola tersebut. Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mengembalikan semangat remaja dalam memakmurkan mushola. Berdasarkan analisis awal, lingkungan setempat merupakan lingkungan Muhammadiyah. Oleh karena itu, mubaligh hijrah setempat berinisiatif mengadakan kegiatan nonton bareng Film Sang Pencerah pada Ahad, 1 Maret 2026.
Meskipun jumlah partisipan remaja terbilang belum banyak, yaitu sekitar 15 orang, penulis melihat adanya antusiasme selama kegiatan berlangsung. Hal ini semakin terlihat saat sesi diskusi, di mana remaja setempat mulai menyampaikan pandangan mereka terkait strategi komunikasi dakwah yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah.
Alfarizal Rayyan Nurramadhan, salah satu remaja Mushola Az-Zumar, mengungkapkan bahwa strategi komunikasi dakwah yang diterapkan oleh K.H. Ahmad Dahlan dimulai dari orang-orang terdekat yang kemudian dijadikan murid untuk belajar agama.
“Kalau menurut saya setelah melihat Film Sang Pencerah, K.H. Ahmad Dahlan menyebarkan ilmu-ilmunya melalui murid-muridnya terlebih dahulu di Langgar Kidul,” kata Rayyan pada Ahad, 1 Maret 2026 di Mushola Az-Zumar.
Selain itu, Rayyan juga menjelaskan bahwa K.H. Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan budaya, seperti sastra dan musik, dalam menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Jawa.
“Sempat menggunakan sastra juga, salah satunya menjelaskan tentang agama melalui alat musik yaitu biola. K.H. Ahmad Dahlan memainkan biola dengan sangat merdu, kemudian beliau memberikan biola tersebut kepada muridnya yang belum bisa bermain,” tutur Rayyan.
Rayyan menjelaskan bahwa melalui biola tersebut, K.H. Ahmad Dahlan memberikan pemahaman bahwa agama ibarat alat musik. Jika dimainkan dengan baik, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik, dan sebaliknya.
Dari Penolakan hingga Harapan yang Terus Tumbuh Bersama
Dalam menjalankan dakwahnya, K.H. Ahmad Dahlan juga menghadapi berbagai tantangan. Ia pernah dianggap sebagai “Kiai kafir” oleh masyarakat setempat, bahkan Langgar Kidul yang biasa digunakan untuk mengaji sempat dirobohkan.
Namun demikian, terdapat hal menarik di balik peristiwa tersebut. Ketika Langgar Kidul dirobohkan, K.H. Ahmad Dahlan sempat merasa putus asa dan ingin meninggalkan Kauman. Ia merasa bahwa tempat tersebut tidak lagi tepat untuk berdakwah. Menariknya, peran keluarga menjadi sangat penting dalam situasi tersebut. Kehadiran keluarga dapat menjadi titik balik bagi seseorang untuk bangkit dari keterpurukan.
“Kakaknya berkata kepada K.H. Ahmad Dahlan bahwa langgarnya masih bisa dibuat lagi, dan sang kakak akan membantu membuatkannya,” ujar Rayyan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Abdul Karim Al Muhtadin, salah satu remaja setempat, yang menyatakan bahwa strategi komunikasi dakwah K.H. Ahmad Dahlan sangat relevan dengan budaya masyarakat Jawa.
“Yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan sudah baik, karena dalam berdakwah kita harus memahami dan dekat dengan budaya masyarakat,” tutur Karim.
Namun demikian, Karim juga menambahkan bahwa dalam proses dakwah, penolakan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Hal tersebut juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada awal dakwahnya.
“Nabi Muhammad juga mengalami hal serupa saat awal berdakwah. Meskipun sudah mendekatkan diri dengan budaya setempat, tetap saja ada masyarakat yang sulit menerima,” ujar Karim.
Tidak hanya berhenti pada kegiatan nonton bersama, mubaligh hijrah juga melakukan berbagai upaya lanjutan untuk menumbuhkan semangat remaja dalam memakmurkan mushola, seperti kegiatan tadabbur alam dan lomba di bulan Ramadan.
Kegiatan tadabbur alam dilakukan sebagai bentuk pengenalan peran manusia sebagai hamba Allah (QS Az-Zariyat: 56) dan khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30), yang dilaksanakan pada Ahad, 22 Februari 2026. Selain itu, diadakan pula Kejuaraan Perumnas (Kejumas) dengan tema “Generasi Muda Islami Berprestasi di Bulan Suci” yang dilaksanakan pada Ahad, 8 Maret 2026. Kegiatan ini disambut dengan baik oleh remaja setempat.
Hingga saat ini, proses pembimbingan dan pembentukan remaja mushola masih terus berjalan. Meskipun program mubaligh hijrah telah selesai, komunikasi antara penulis dan remaja setempat tetap terjalin dengan baik. Hal ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membina dan mempersiapkan generasi muda yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai akhlak, iman, dan pengetahuan.
Remaja harus menyadari bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Seluruh ciptaan Allah di dunia ini merupakan wujud kebesaran-Nya dan diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia (QS Al-Baqarah: 29). Remaja juga harus mampu mengarahkan seluruh potensi kebaikan dalam dirinya ke arah yang positif (QS Asy-Syams: 8–10). Pada akhirnya, manusia yang paling bernilai adalah mereka yang mampu menjaga dan memakmurkan bumi sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT (Jannah, 2016).
Kontributor: Mira Fitdyati*
Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta prodi Ilmu Komunikasi. Saat ini aktif sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Rosyad Sholeh UNISA.
