Oleh: Muhammad Zulfi Ifani*
LPCR.OR.ID – Di banyak Musycab dan Musyran, ada satu keluhan yang hampir selalu muncul. Kalimatnya sederhana, tapi nadanya serius: “Sekarang susah sekali cari anak muda yang mau aktif di cabang dan ranting?!”
Sebagai anak muda yang sedang bergiat di cabang dan ranting, saya sering mendengar kalimat ini. Dan jujur saja, saya pun sering merasakannya dari dua sisi: sebagai yang kader muda yang dicari, sekaligus sebagai pimpinan yang bingung mencari kader muda baru.
Sepinya anak muda di cabang dan ranting sebenarnya bukan sekadar soal kurangnya kader. Ini menyentuh soal yang lebih dalam: bagaimana nantinya masa depan Muhammadiyah akan diteruskan? Muhammadiyah adalah gerakan tajdid, gerakan pembaharuan modernis. Tapi bila cabang ranting sebagai ujung tombak didominasi oleh kaum senior. Pertanyaannya, apakah cabang dan ranting bisa beradaptasi dengan perubahan zaman?
Data terbaru dari LPCRPM PP Muhammadiyah memberi gambaran yang cukup gamblang. Merujuk pada tulisan Arwan Ahmad Khoiruddin dari Tim Pengembang Sistem Informasi Cabang Ranting (SICARA), data menunjukkan temuan yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu:
- 72,9% pengurus di tingkat Cabang berusia lebih dari 45 tahun (data dari 662 PCM se-Indonesia) dan
- 69,9% pengurus di tingkat Ranting berada pada rentang usia di atas 45 tahun (data dari 1037 PRM se-Indonesia)
Padahal, hampir di setiap forum, kita sepakat bahwa masa depan Muhammadiyah ada di tangan generasi muda IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, dan seluruh Angkatan Muda Muhammadiyah lainnya. Ironisnya, data membuka fakta bahwa semangat regenerasi ternyata baru berhenti di pidato dan dokumen saran rekomendasi. Di lapangan, struktur cabang dan ranting masih didominasi wajah-wajah yang mungkin sama dari periode ke periode.
Sudut Pandang Pertama: “Youth blow the doors off governance!”
Secara ideal, banyak riset menunjukkan satu hal yang sebenarnya sudah kita pahami secara naluriah: ketika anak muda diberi ruang, organisasi cenderung lebih bergeliat. Lebih gesit, lebih kreatif, dan lebih peka terhadap perubahan sosial. Anak muda membawa cara pandang baru, jaringan baru, dan keberanian untuk mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan.
Riset Zeldin, S.,dkk (2020) berjudul “Youth in decision-making: A study on the impacts of youth on adults and organizations”, misalnya saja. Mereka berkesimpulan bahwa pemuda memiliki efek kuat dan positif terhadap organisasi. Melibatkan pemuda dalam pengambilan keputusan merupakan strategi kuat untuk perubahan positif. Suatu keistimewaan yang diringkas menjadi kalimat: “Youth blow the doors off governance!”
Maknanya, Para Pemuda meledakkan pintu tata kelola. Karena menggambarkan bagaimana pemuda membawa inovasi dan pembaruan terhadap stagnansi. Organisasi akan dinamis jika dikelola pemuda. Di situ kader muda Muhammadiyah punya potensi untuk merevitalisasi cabang-ranting yang “sepi” dengan energi segar dan membuat organisasi lebih adaptif terhadap perubahan.
Dalam konteks Muhammadiyah, ini berarti cabang dan ranting tak cukup hanya “memakai tenaga anak muda” untuk jadi panitia teknis atau dokumentasi. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan. Anak muda perlu dilibatkan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan secara umum.
Cabang-ranting unggulan seharusnya bisa dikenali dari sini: apakah ia sungguh-sungguh menjadi tempat tumbuhnya kader muda, atau hanya sekadar tempat berkumpulnya para senior? Apakah anak muda hanya jadi pelengkap di SK, atau benar-benar diberi amanat dan ruang belajar untuk memimpin?
Sudut Pandang Kedua: Ideal di Atas Kertas, Rumit di Lapangan
Secara realita, sebagai orang yang sedang bergiat di tingkat cabang dan ranting, saya paham betul bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Idealitanya anak muda harus ikut berkhidmat, tapi terbentur berbagai realitas hidup – sehingga kesulitan untuk aktif.
Pertama, soal fase kehidupan. Banyak kader muda sedang berada di masa paling sibuk: membangun karier, mencari nafkah, mencari jodoh dan membangun kehidupan keluarga. Pagi sampai sore bekerja, malam harus menemani anak & keluarga. Otomatis waktu untuk cabang ranting di malam harinya terbentur.
Senin – Jumat bekerja, sehingga weekend bisa untuk Muhammadiyah? Tentu tidak… anak muda sekarang umumnya menggunakan weekend untuk healing – kegiatan rekreatif baik sendiri maupun bersama keluarga. Susah memang mencocokkan waktunya.
Kedua, soal jarak generasi. Tak sedikit anak muda yang merasa sungkan, bahkan canggung, ketika harus intens berinteraksi dengan para senior yang jauh selisih umurnya. Apalagi jika budaya komunikasinya kaku, satu arah, dan hierarkis. Forum yang banyak monolog daripada dialog pelan-pelan membuat anak muda memilih aktif di ortom, karena di sana mereka merasa lebih didengar.
Ketiga, banyak kader muda sebenarnya sudah “habis-habisan” di ortom. Energi mereka terkuras di IPM, IMM, Pemuda, atau NA. Ketika kemudian diminta masuk ke struktur PCM atau PRM tanpa kejelasan peran dan penyesuaian beban, yang muncul bukan semangat, tapi justru kelelahan.
Keempat, soal kegiatan yang kurang relevan. Tak sedikit rapat cabang dan ranting yang terasa membosankan bagi anak muda saat ini: rapat satu ke rapat lainnya, audiensi satu ke audiensi lainnya, yang panjang, penuh dengan tugas administratif. Yang secara natural, ini berbeda dengan minat anak muda saat ini, yang lebih senang dengan kegiatan-kegiatan ringan, happy-happy, dan rekreatif.
Perubahan Harus Dua Arah
Dalam semangat Islam, perubahan tak bisa dibebankan ke satu pihak saja. Al-Qur’an dan Muhammadiyah mengajarkan kerja kolektif, ta’awun – saling menolong dalam kebaikan. Artinya, regenerasi adalah tugas bersama bukan ajang saling menyalahkan antara yang tua dan yang muda.
Para senior perlu berbesar hati untuk benar-benar memberi ruang. Bukan ruang simbolik, tapi ruang yang disertai kepercayaan dan delegasi nyata. Memberi kesempatan anak muda memimpin, meski caranya tentu berbeda dari kebiasaan lama.
Di sisi lain, anak muda juga perlu berlapang dada. Struktur hierarkis di Persyarikatan memang tidak secepat algoritma media sosial. Tapi justru di situ ada proses pembelajaran tentang kesabaran, musyawarah, dan kerja bersama.
Kalau komunikasi di cabang dan ranting dibangun dengan semangat saling memahami bukan saling menang maka jarak generasi bisa dipersempit. Forum-forum tak lagi jadi tempat menggurui, tapi ruang berbagi pengalaman dan gagasan antar generasi.
Penutup: Cabang Ranting Rumah Bersama
Kembali ke riset Zeldin, S.,dkk (2020). Seyogyanya, pemuda dapat berkontribusi dalam membawa perspektif segar, dengan idealisme menjadi penjaga visi organisasi, dan mendorong inovasi dengan menantang tata aturan lama (“Youth blow the doors off governance!”).
Sedangkan, yang lebih senior, bisa berbagi pengalaman kerja, koneksi sumber daya finansial & jejaringnya, dan panduan administratif. Mereka berperan sebagai pemandu, mentor, dan pelatih, yang memungkinkan pemuda fokus pada aspek misi dan aksi teknis.
Pada akhirnya, regenerasi bukan soal memasukkan nama anak muda ke dalam SK. Regenerasi adalah soal membangun suasana: suasana saling percaya, saling belajar, dan saling menguatkan.
Cabang dan ranting seharusnya menjadi rumah bersama. Tempat dimana yang tua mengajarkan kebijaksanaan, dan yang muda menyalakan api energi perubahan. Di titik pertemuan itulah semangat Al-Ma’un dan Fastabiqul Khairat bisa benar-benar hidup.
* Penulis adalah Anggota LPCRPM PP Muhammadiyah / Mahasiswa Doktor Kepemimpinan & Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada / Owner PT IFRAME Solusi Multimedia
