LPCR.OR.ID – Dalam keraguan apakah warga persyarikatan akan datang, tuan rumah tetap menyiapkan perhelatan. Menjelang silaturahmi, teman-teman Kokam mengabarkan persiapan untuk menjamu saudara-saudara se-antero Pandeglang.
Sehari sebelumnya, segala sesuatu dipersiapkan: panggung, sound, makanan, oleh-oleh untuk tamu undangan, dan palawari. Koordinasi dengan berbagai pihak dilakukan demi kelancaran acara. SD Negeri Cinoyong pun diminta bantuan untuk pinjam meja dan kursi.
Sepuluh hari sebelumnya, kasepuhan bertanya, “Seberapa banyak jamaah yang akan datang?” Jika para jamaah istiqamah, diperkirakan 500-700 orang akan hadir bersilaturahmi. Setidaknya, dua kendaraan roda empat dari setiap cabang, dan sejumlah jamaah berdatangan dengan roda dua.
Pada hari H, atmosfer silaturahmi mulai terasa. Kendaraan berjejer, antre di jalan, pengatur lalu lintas sigap memberikan komando, dan para jamaah berdatangan dengan wajah bahagia, sesuai tagline “berMuhammadiyah itu harus Menggembirakan.”

Meski di perjalanan, banyak ibu yang turun dari kendaraan dengan wajah penuh bahagia. Medan tanjakan membuat mobil-mobil berumur perlu diringankan bebannya. Dengan suka cita, silaturahmi hari itu menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Di grup ibu-ibu ‘Aisyiyah, perbincangan ramai. Terutama bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di lokasi yang berbeda dibandingkan tempat silaturahmi bulanan sebelumnya.
Cinoyong adalah sebuah desa di Kecamatan Carita, berjarak sekitar 40 km arah barat laut dari Kantor Bupati Pandeglang. Dengan kendaraan roda empat, jarak tempuh bisa mencapai 60 km dan ditempuh dalam dua jam perjalanan. Dengan enam curug di sekitar Cinoyong, wilayah ini berada di ketinggian 237,5 meter di atas permukaan laut. Bagi jamaah yang menghabiskan lima jam di perjalanan, silaturahmi ke Cinoyong adalah tantangan tersendiri. Namun, dorongan dan motivasi yang kuat menjadikan perjalanan tidak terasa sebagai beban.
Asumsi dasar, “Dengan 40 ribu yang dikeluarkan, apa yang saya dapatkan?” adalah nominal yang paling rendah. Dengan satu silaturahmi, Allah menggerakkan perputaran uang, sehingga totalnya mencapai 28 juta rupiah di Cinoyong. Jika seorang bupati/walikota perlu mengalokasikan 28 juta rupiah untuk satu silaturahmi, berapa banyak anggaran daerah yang harus dialokasikan untuk ribuan lokasi dalam setahun?
Undangan terjauh adalah Ketua PCM Rawamangun-Pulogadung. Untuk perjalanan pulang-pergi, biaya tak kurang dari 2 juta untuk satu rombongan. Rombongan kedua terjauh adalah dari Panongan Tangerang bersama Tim LPHU Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Banten. Secara waktu tempuh, yang terjauh kedua adalah Cabang Muhammadiyah di Pandeglang, yaitu Sindangresmi/Bojongmanik, dengan waktu tempuh tiga jam.

Apresiasi diberikan kepada Ketua PCM Rawamangun-Pulogadung, H. Welli Sakti Pasaribu, S.T., atas kehadirannya, memantik semangat memajukan persyarikatan. Keikhlasan adalah kunci dalam menghadiri momen tasyakuran Cabang Carita. Selain ikhlas karena Allah, keikhlasan berikutnya adalah sami’na wa atha’na kepada pedoman persyarikatan.
Kepemimpinan Muhammadiyah menekankan keikhlasan yang harus melewati berbagai ujian. Ketua PCM Rawamangun-Pulogadung menegaskan pentingnya introspeksi, bukan menyalahkan jalan atau orang lain. Ketika ranting atau cabang tidak berkembang, introspeksi diri adalah jalan keselamatan. Mereka yakin bahwa pengorbanan tidak akan sia-sia dan Allah akan memberikan kejutan tak terduga sebagai imbalan.
H. Amirudin dari PWM Banten, Ketua LPCR-PM PWM Banten, merasa haru menyaksikan semangat ibu-ibu sepuh yang berjalan dengan tongkat memenuhi panggilan jiwa sebagai pengabdi Allah. Menurutnya, memiliki rasa suka cita kegembiraan dalam menjalankan amanah adalah hal penting.
Dalam sambutannya, Dr. H. Ukun Kurnia sebagai Ketua PDM Pandeglang menyampaikan haru dan bahagia melihat semangat hadirin, terutama ibu-ibu, menghadiri agenda bulanan. Para hadirin tidak perlu merasa kapok meski kendaraan mogok, karena tuan rumah dan semua yang hadir adalah saudara sesama Islam dan persyarikatan. Bantuan akan diberikan agar semuanya dapat pulang dengan selamat.
Tuan rumah yang telah menyiapkan jamuan diyakini akan berbalas keberkahan. Rumah warga sekitar menjadi among tamu, baik untuk parkir kendaraan maupun menyediakan toilet, atau teras rumahnya menjadi tempat berbincang.
Jamaah diundang merayakan Milad ke-113 Muhammadiyah di Madinah melalui program Umrah Bersama yang digagas oleh LPHU PWM Banten dengan target 113 peserta. LPHU juga akan road show ke cabang Pandeglang: Menes, Kubangkondang, dan Labuan.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak Allah tidak terkalahkan. Banyak orang memiliki alasan finansial, tetapi tetap berusaha untuk berkontribusi. Sampai jumpa di PCM Pandeglang untuk mengupas pelajaran dari Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Kita bertemu lagi di pekan ke-4 di Pendopo Bupati Pandeglang. Muhammadiyah itu kaya bukan karena finansial, tetapi karena pengabdian kepada Allah yang memudahkan kemakmuran bagi Pandeglang.
Kontributor: