Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Puspa W. Tobe*

LPCR.OR.ID – Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan selalu melahirkan kader-kader yang berkiprah tidak hanya di ranah struktural organisasi, tetapi juga melalui profesi dan pengabdian sosial. Salah satu sosok yang merepresentasikan semangat tersebut adalah Bapak Rizal Ismail, seorang kader Muhammadiyah yang mengabdikan dirinya di bidang kesehatan dan kemanusiaan. Melalui peran sebagai tenaga kesehatan, aktivis organisasi, dan relawan kebencanaan, beliau menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah dapat dihidupkan melalui kerja nyata dan profesionalisme.

Bapak Rizal Ismail lahir di Bantul pada tahun 1990 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kedisiplinan dan pengabdian. Ayah beliau merupakan seorang anggota TNI, sementara ibunya berprofesi sebagai guru. Kombinasi latar belakang orang tua tersebut membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara laki-laki, beliau terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini, termasuk membantu orang tua menggarap sawah atau ladang di sela-sela kesibukan mereka. Pengalaman masa kecil ini menempa beliau menjadi pribadi yang tangguh dan pekerja keras.

Dalam kehidupan keluarga, Bapak Rizal kini telah berumah tangga dan dikaruniai seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun. Bagi beliau, keluarga adalah sumber kekuatan sekaligus tantangan, terutama dalam menyeimbangkan peran sebagai ayah, tenaga kesehatan, dan aktivis Muhammadiyah.

Perjalanan Pendidikan

Pendidikan dasar hingga menengah beliau ditempuh di wilayah Piyungan, Yogyakarta. Beliau mengawali pendidikan di SD Muhammadiyah Karangploso, lulus pada tahun 2002. Pendidikan di sekolah Muhammadiyah ini menjadi fondasi awal dalam mengenal nilai-nilai keislaman dan persyarikatan. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Piyungan dan lulus pada tahun 2005, kemudian menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Piyungan, lulus pada tahun 2008.

Setelah sempat mengalami jeda pendidikan formal, pada tahun 2011 Bapak Rizal memperoleh kesempatan berharga berupa beasiswa untuk melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Masa kuliah inilah yang menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidup dan ideologinya sebagai kader Muhammadiyah.

Aktivitas Organisasi dan Karier

Selama menempuh pendidikan di UMY, darah organisasi Bapak Rizal mulai mengalir semakin kuat. Beliau aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tingkat komisariat serta di Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA). Bagi Bapak Rizal, IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan pintu utama untuk memahami ideologi Muhammadiyah secara mendalam, baik dari aspek keislaman, keilmuan, maupun kemanusiaan. Melalui IMM, beliau belajar tentang nilai dakwah, kepemimpinan, dan pengabdian sosial.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Bapak Rizal mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Karier beliau dimulai sebagai perawat klinis di Unit Gawat Darurat (UGD), sebuah unit yang menuntut ketangguhan fisik, mental, dan profesionalisme tinggi. Seiring waktu dan pengalaman, beliau kemudian merambah ke bidang manajemen layanan kesehatan, memperluas kontribusi tidak hanya pada aspek pelayanan langsung kepada pasien, tetapi juga dalam pengelolaan sistem kesehatan yang lebih efektif.

Selain berkiprah di dunia rumah sakit, Bapak Rizal juga aktif sebagai relawan di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Melalui MDMC, beliau terlibat langsung dalam berbagai misi kemanusiaan, khususnya dalam penanganan korban bencana alam. Peran ini semakin menguatkan keyakinan beliau bahwa Muhammadiyah hadir sebagai gerakan dakwah yang membumi dan solutif.

Filosofi Hidup dan Pengalaman Berkesan

Dalam perjalanan dakwah dan organisasi, Bapak Rizal sangat mengagumi sosok KH. AR Fachruddin (Pak AR), Ketua Umum PP Muhammadiyah yang dikenal dengan kesederhanaan dan keteladanan luar biasa. Dari Pak AR, beliau belajar bahwa dakwah tidak harus dilakukan dengan gemerlap jabatan, melainkan dengan keikhlasan dan konsistensi dalam pengabdian.

Prinsip hidup yang selalu dipegang oleh Bapak Rizal adalah “menghidup-hidupkan Muhammadiyah melalui profesi, bukan mencari penghidupan di dalam Muhammadiyah.” Prinsip ini tercermin dari kesungguhannya bekerja secara profesional, sekaligus menjadikan profesi sebagai sarana dakwah.

Pengalaman paling berkesan bagi beliau adalah keterlibatannya dalam advokasi kebijakan pembatasan minuman beralkohol (Perda Miras) di Yogyakarta sebagai bentuk dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, serta pengalaman kemanusiaan bersama MDMC. Saat bertugas di lokasi bencana, beliau merasakan kepuasan batin yang mendalam ketika menyaksikan para korban yang semula putus asa, perlahan kembali tersenyum setelah mendapatkan bantuan.

Suka Duka dan Harapan

Menjadi warga Muhammadiyah, menurut Bapak Rizal, memberikan anugerah berupa jaringan persaudaraan yang sangat luas, bahkan hingga ke luar negeri seperti Jepang. Tantangan terbesar yang beliau hadapi adalah manajemen waktu antara pekerjaan, keluarga, dan aktivitas organisasi.

Ke depan, Bapak Rizal berharap Muhammadiyah terus menjadi “sinar” yang memberikan pencerahan dan kehangatan bagi masyarakat, khususnya yang sedang berada dalam “kegelapan”. Kepada generasi muda Muhammadiyah, terutama calon tenaga kesehatan, beliau berpesan agar memiliki mental yang kuat, integritas tinggi, dan tetap menjadikan nilai-nilai Islam serta kemanusiaan sebagai landasan utama dalam profesi dan kehidupan.

*Penulis pernah tinggal di panti asuhan ‘aisyiyah, sekolah di SMP da SMA Muhammadiyah. Mahasiswi jurusan kebidanan di Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Bagikan