Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Sabtu, 27 Desember 2025

Menutup akhir tahun 2025, SECARA Nasyiah DIY menghadirkan diskusi reflektif yang menyentuh akar terdalam aktivisme perempuan: spiritualitas. Bersama Nur Arina Hidayati, M.Sc, peserta diajak merenungkan kembali hubungan antara gerakan sosial dan kekuatan ruhani yang menopangnya.

Tema yang diangkat bukan sekadar wacana motivasional, melainkan pengingat fundamental bahwa aktivisme tanpa spiritualitas akan mudah rapuh.

Aktivisme: Pilihan Sadar, Bukan Sekadar Kesibukan

Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa perempuan yang terlibat dalam organisasi bukanlah mereka yang “tidak punya kegiatan”. Justru sebaliknya—mereka adalah perempuan-perempuan yang telah memiliki peran besar dalam kehidupan pribadi: sebagai ibu, istri, pekerja profesional, atau akademisi.

Berorganisasi adalah pilihan sadar untuk memberi makna lebih pada hidup.

Namun pilihan ini datang dengan konsekuensi: keterbatasan waktu, energi yang terbagi, dan tuntutan peran yang saling bersinggungan. Di sinilah niat menjadi jangkar utama.

Jika niat lurus sebagai ibadah, maka kelelahan akan terasa berbeda. Ia bukan beban, tetapi bagian dari pengabdian.

Spiritualitas sebagai “Rest Area” Kehidupan

Salah satu analogi yang mengena adalah perumpamaan shalat sebagai rest area di tengah perjalanan panjang kehidupan.

Aktivitas kita rapat, pekerjaan, tugas domestik, agenda organisasi adalah perjalanan panjang yang melelahkan. Tanpa jeda spiritual, kita akan kehabisan energi batin.

Salat lima waktu menjadi ruang berhenti. Wudhu membersihkan, doa menenangkan, dzikir menguatkan. Spiritualitas bukan pelengkap gerakan, ia adalah sumber daya utamanya.

Gerakan sosial yang tidak ditopang ruhani akan berubah menjadi sekadar rutinitas administratif.

Ikhlas yang Sehat: Bukan Mengorbankan Diri Tanpa Batas

Dalam diskusi juga ditegaskan bahwa ikhlas tidak berarti menghapus batas diri.

Sering kali perempuan merasa harus selalu siap, selalu hadir, selalu kuat. Ketika muncul rasa lelah atau keberatan, muncul pula perasaan bersalah.

Padahal, menjaga kesehatan fisik dan mental adalah bagian dari amanah. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak atas kita.

Ikhlas yang sehat adalah menjalankan amanah dengan kesadaran, bukan dengan tekanan. Jika merasa kewalahan, komunikasi adalah jalan keluarnya bukan memendam.

Organisasi yang matang adalah organisasi yang memberi ruang dialog, bukan menuntut pengorbanan diam-diam.

Perempuan dan Multi-Peran: Mengelola Prioritas dengan Bijak

Perempuan berada dalam fase kehidupan yang dinamis. Ada masa produktif yang sangat padat, ada masa yang membutuhkan fokus pada keluarga atau kesehatan.

Tidak semua fase menuntut kita berada di garis depan.

Beliau mengingatkan pentingnya memahami siklus kehidupan. Memberi jeda bukan berarti mundur dari perjuangan. Justru itu bentuk kebijaksanaan dalam menjaga keberlanjutan gerakan.

Gerakan berkemajuan lahir dari kader yang bertahan lama, bukan yang habis di tengah jalan.

Support System dan Komunikasi

Pertanyaan tentang dukungan pasangan juga mengemuka. Jawabannya sederhana namun mendalam: bangun komunikasi yang jujur.

Support system tidak lahir dari asumsi, tetapi dari percakapan. Delegasi peran domestik perlu dilatih. Standar perfeksionisme terkadang perlu diturunkan.

Setiap rumah tangga memiliki dinamika berbeda. Kuncinya bukan membandingkan, tetapi membangun kesepahaman bersama.

Refleksi Akhir Tahun: Meluruskan Niat, Menguatkan Langkah

Sebagai forum akhir tahun, sesi ini menjadi ruang muhasabah. Apakah gerakan yang kita jalani masih murni ibadah? Atau mulai bergeser menjadi ambisi personal?

Apakah kita bergerak karena cinta nilai, atau sekadar menjaga citra?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar aktivisme tetap bernilai jangka panjang.

Spiritualitas menjaga kita dari kelelahan yang kosong. Ia memberi makna pada rapat-rapat panjang, pada perjalanan jauh, pada tugas-tugas kecil yang sering tak terlihat.

Menutup sesi, Yunda Arina memberikan pesan yang menguat:

Gerakan boleh besar, tetapi hati harus tetap jernih.

Langkah boleh cepat, tetapi ruh harus tetap terjaga.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang dinilai melainkan seberapa lurus niat kita.

Simak SECARA Episode 8 di sini: 

Bagikan