Tunjukkan Karya Cabang Ranting-mu, menangkan hadiah puluhan juta rupiah!

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

LPCR.OR.ID —

Penciptaan manusia merupakan bukti nyata dari kebesaran Allah SWT, di mana proses penciptaan berasal dari sesuatu yang tiada menjadi makhluk yang sempurna, baik dari akal maupun budinya. Sehingga proses tersebut dapat dikatakan sebagai mukjizat yang agung. Oleh karena itu, hal tersebut mencerminkan sifat Allah yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Pencipta. Tujuan dari penciptaan manusia adalah agar manusia dapat beribadah kepada Allah SWT. Adapun proses penciptaan manusia bersumber dari kajian Al Qur’an dan Sains.

Kajian Al Qur’an, proses penciptaan manusia menurut Al Qur’an memiliki dua dimensi, yaitu proses penciptaan manusia pertama (Nabi Adam AS) dan proses penciptaan keturunannya (melalui proses reproduksi manusia pada umumnya). Proses penciptaan manusia pertama (Nabi Adam AS) tersurat di dalam Al Qur’an surah Al Hijr ayat 26-29. Sedangkan, proses penciptaan keturunannya (melalui proses reproduksi manusia pada umumnya) tersurat di dalam Al Qur’an surah Al Mu’minun ayat 12-14.

Surah Al Hijr ayat 26-29 memiliki arti “Dan sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Sebelumnya Kami telah menciptakan jin dari api yang sangat panas. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.” Arti surah tersebut telah menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia pertama berasal dari tanah yang dibentuk dan disempurnakan dengan cara meniupkan roh, kemudian diperintahkan untuk bersujud kepada-Nya.

Sedangkan surah Al Mu’minun ayat 12-14 memiliki arti “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” Adapun arti surah tersebut adalah dimulai dari sulalatin min thin (saripati tanah) -> nuthfah (bertemunya sel sperma dan sel telur di rahim) -> ‘alaqah (segumpal darah yang melekat di rahim) -> mudghah (segumpal daging) -> ‘izham (pembentukan tulang belulang) -> kasauna al-‘izham paham (pembungkusan tulang dengan daging atau otot) -> khlaqan akhar (ditiupkan ruh untuk menjadi manusia sempurna dan berakal).

Adapun hikmah yang terdapat pada kajian Al Qur’an tersebut adalah kemuliaan atas kebesaran-Nya dalam proses penciptaan manusia dan semoga mampu membuat manusia sadar akan asal usulnya yang terbuat dari tanah, agar terhindar dari sifat sombong.

Sains, dalam cara kerja sains modern (khususnya embriologi) biologis proses penciptaan manusia secara empiris. Proses tersebut dimulai dari fertilisasi (pertemuan sel sperma dan sel telur sehingga membentuk zigot) -> fase germinal/embrio (zigot membelah diri dan menempel di dinding rahim serta membentuk struktur dasar organ) -> organogenesis (tahapan pembentukan sistem organ vital seperti saraf, jantung, rangka tulang dan jaringan otot) -> fetus (fase perkembangan janin hingga siap dilahirkan).

Secara proses penciptaan manusia dalam kajian Al Qur’an dan Sains, keduanya tidak saling bertentangan tetapi justru saling melengkapi. Di mana penjelasan tahap-tahap embriologi dalam Al Qur’an dipandang sebagai bukti mukjizat ilmiah (I’jaz ‘Ilmi), kemudian diimplementasikan dalam sains melalui ilmu pengetahuan dan teknologi modern di abad-abad kemudian.

Keduanya juga memiliki hubungan titik temu, batas, dan peran. Secara titik temu, Al Qur’an memberikan framework (bingkai) kebenaran makro, sedangkan sains merinci mekanisme mikro dalam proses tersebut. Secara batas, Al Qur’an berfungsi menjawab pertanyaan filosofis “dari mana, bagaimana, dan untuk apa” manusia diciptakan, sedangkan sains menjawab pertanyaan mekanis “bagaimana proses biologis dan anatomis itu terjadi”. Secara peran, Al Qur’an memberikan pedoman absolut, sedangkan sains terus berkembang dan bersifat relatif/terbuka terhadap pembaharuan temuan.

Oleh karena itu sering kali Al Qur’an dianggap sebagai fondasi moral dan etika sains, sekaligus menjadi motivasi spiritual. Keduanya mampu membimbing akal agar ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan, melarang kerusakan, dan bernilai ibadah.

Adapun sikap ilmiah dalam Islam, yaitu:

• Tidak anti-sains: Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan akal, untuk melakukan observasi, ekperimen, dan eksplorasi alam semesta untuk kemajuan peradaban.

• Tidak pseudosains: Islam tidak mencampuradukkan antara teks agama dengan teori ilmiah yang belum didasarkan pada metodologi, observasi, atau bukti yang sah (cocokologi). Oleh karena itu ilmu harus dibangun di atas premis yang rasional dan fakta yang teruji.

• Tidak memaksakan ayat menjadi teori ilmiah: Al Qur’an adalah pedoman nilai dan moral, bukan buku teks sains. Sehingga memaksakan penafsiran ayat agar sesuai dengan teori sains tertentu (sifat sementara dan bisa berubah) dianggap mengurangi keagungan teks agama.

Bagikan