Tunjukkan Karya Cabang Ranting-mu, menangkan hadiah puluhan juta rupiah!

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Ika Ari Yulianti, M.Sc*

LPCR.OR.ID — Dunia pendidikan hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang mengkhawatirkan. Bisakah membayangkan, ruang-ruang kelas tidak lagi ada guru yang menjelaskan pembentukan ikatan kimia atau mendampingi kegiatan praktikum asam basa. Di sudut ruang kelas siswa asik berkomunikasi dengan ChatGPT atau gemini yang menjawab pertanyaan dengan sangat sabar dan super cepat. Tugas penyetaraan reaksi redoks bahkan bisa dalam hitungan detik lewat beberapa baris perintah (prompt).

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat ini, sebuah pertanyaan mendasar mengetuk pintu kesadaran kita: Ketika mesin semakin pintar berpikir seperti manusia, apakah siswa kita tetap bisa mempertahankan karakternya? Bagi Muhammadiyah, organisasi dengan gerakan Islam Berkemajuan, fenomena ini bukan sekadar tantangan akademis saja melainkan pertaruhanterhadap pembentukan karakter generasi muda kita. Kita sedang menghadapi risiko baru yang nyata yaitu krisis adab digital.

Jika kita melihat kebelakang, sejarah lahirnya sekolah Muhammadiyah dilatarbelakangi keadaan dimana pendidikan dihadapkan pada dualisme. Saat jaman kolonial, manusia pintar akademis tetapi nihil dalam nilai-nilai agama. Di sisi lain, ada yang saleh secara moral tapi tertinggal oleh zaman. KH. Ahmad Dahlan mematahkan dualisme tersebut dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dan pembentukan adab. Bagi beliau, kepintaran tanpa karakter akan memicu kehilangan rasa kemanusiaan. Fondasi inilah yang membentuk jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan hari ini yang melahirkan intelektual muslim beradab.

Saat ini, Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah yang dikenal dengan kurikulum Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba) secara penuh menanamkan disiplin ibadah dan etika sosial. Siswa diajarkan bersalaman dengan guru, bertutur kata sopan, dan menjaga solidaritas sosial. Namun, kenyataan saat ini memaksa kita untuk menyadari bahwa ruang kelas telah berkembang tanpa batas. Etika siswa tidak lagi hanya diuji ketika mereka berhadapan langsung dengan guru di sekolah. Ujian etika yang sesungguhnya justru berlangsung saat mereka sendirian di kamar, melihat layar ponsel, dan berinteraksi dengan algoritma digital. Pengawasan sosial perlahan-lahan mulai runtuh dan digantikan oleh kebebasan tanpa batas.

Kecerdasan Buatan membawa perubahan besar terhadap adab siswa masa depan yang wajib diantisipasi. Siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang menghalalkan segala cara demi hasil instan, daya juangnya lemah, dan meremehkan proses belajar. Siswa rentan kehilangan rasa hormat kepada figur guru atau orang tua. Kritik berubah menjadi perundungan dunia maya(cyberbullying), dan penyebaran informasi tanpa verifikasi (tabayyun) dianggap sebagai hal yang biasa. Siswa mahir memerintah AI, tetapi gagap dan miskin empati saat harus bekerja sama dengan sesama manusia di dunia nyata.

Menghadapi dampak negatif AI, Muhammadiyah tidak boleh meresponsnya dengan ketakutan berlebihan berupa pelarangan teknologi. Sebaliknya, Muhammadiyah harus merumuskan visi “Adab Berkemajuan” sebuah konsep etika Islam yang kontekstual, adaptif, namun tetap kokoh memegang prinsip nilai dasar agama.

Konsep Adab Berkemajuan di era AI ini harus diterapkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Kurikulum sekolah harus memasukkan materi etika teknologi. Siswa harus diajarkan bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab sebagai mitra berpikir. Nilai-nilai kejujuran ilmiah, penghormatan hak cipta, dan kesadaran bahwa “jempolmu adalah cerminan imanmu” harus ditanamkan sejak dini. Guru Muhammadiyah masa depan harus mengambil peran sebagaipembimbing etika, pendengar yang hangat, dan pemandu karakter. Hubungan emosional yang dekat antara guru dan murid adalah benteng terakhir pertahanan adab siswa. Muhammadiyah melalui gerakan Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah perlu memperkuat edukasi pendidikan digital (digital parenting). Harus ada keselarasan aturan penggunaan teknologi antara di sekolah dan di rumah, sehingga ruang digital anak tetap menjadi ruang yang beradab.

Era AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan ruang pembuktian bagi sistem pendidikan Muhammadiyah. Dengan meletakkan dasar sejarah KH. Ahmad Dahlan sebagai pondasi dan menjadikan “Adab Berkemajuan” sebagai kompasnya, sekolah Muhammadiyah akan terus melahirkan generasi emas. Generasi yang mampu menguasai teknologi, namun tetap berhati mulia.

* Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah

Bagikan