Tirtonirmolo, Bantul — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo Barat terus mendorong penguatan organisasi dan kemandirian ranting melalui kegiatan pengajian yang tidak hanya berorientasi pada penguatan keagamaan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia, organisasi, dan kemandirian ekonomi.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Pengajian Rutin Bulanan Khusus PRM Tirtonirmolo Barat yang dilaksanakan setiap tanggal 10. Pengajian edisi Agustus 2026 menghadirkan Ustaz H. Ansori, S.E., anggota PRM Gading, Klaten, diselenggarakan pada Senin (10/8/2026) di Masjid Al-Hidayah Kersan, salah satu masjid di wilayah PRM Tirtonirmolo Barat yang memiliki fasilitas jamaah hingga tiga lantai.
Pengajian khusus ini diikuti unsur PRM-PRA, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Angkatan Muda Muhammadiyah, takmir masjid, serta para kader Muhammadiyah di lingkungan Tirtonirmolo Barat, jamaah masjid Al-Hidayah, serta undangan dari PRM lain.
Dalam paparannya, Ansori menyampaikan pengalaman PRM Gading Klaten dalam membangun ranting yang mandiri, aktif, dan memiliki daya gerak yang kuat dan berdampak.
“Ranting mandiri maknanya adalah mandiri dalam keuangan, SDM, tanggung jawab, dan kebijakan,” ungkap Ansori.
Menurutnya, kemandirian ranting tidak lahir secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang harus dibangun secara sadar dan sistematis. Setidaknya terdapat sejumlah langkah penting yang perlu dilakukan, mulai dari membangun kesadaran, mengidentifikasi potensi, merencanakan program kerja, membangun struktur organisasi, mengembangkan sumber daya manusia, melibatkan peran serta jamaah, hingga melakukan monitoring dan evaluasi.
“Langkah menuju ranting mandiri adalah membangun kesadaran, mengidentifikasi potensi, merencanakan program kerja, membangun struktur organisasi, mengembangkan SDM, melibatkan peran serta jamaah, dan adanya monitoring dan evaluasi,” tegasnya.
Belajar dari Ranting Juara Nasional
Ketua PRM Tirtonirmolo Barat, Sofriyanto, menjelaskan bahwa dipilihnya PRM Gading Klaten sebagai narasumber bukan tanpa alasan. Ranting Gading memiliki pengalaman dan rekam jejak yang layak dipelajari oleh ranting-ranting Muhammadiyah lainnya.
PRM Gading Klaten tercatat dua kali menjadi finalis lomba Cabang-Ranting Nasional secara beruntun, yaitu pada tahun 2019 dan 2021.
Menurut Sofriyanto, pengalaman tersebut bukan sekadar prestasi yang perlu dikagumi, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran yang dapat ditularkan kepada ranting lainnya.
“Kenapa kita mengundang pembicara dari PRM Gading Klaten? Jadi ibarat ajang World Cup, Ranting Gading ini sudah selevel Argentina yang bisa masuk final dua kali secara beruntun. Pada puncak final tahun 2019 Ranting Gading menjadi juara 2, kemudian tahun 2020 tidak ada penyelenggaraan lomba karena Covid-19. Selanjutnya tahun 2021 Ranting Gading masuk final kembali dan menjadi juara 1. Hanya bedanya Argentina tahun 2022 menjadi juara 1 dan tahun 2026 juara 2, Ranting Gading sebaliknya,” ungkap Sofriyanto dengan nada canda.
Bagi PRM Tirtonirmolo Barat, forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pengajian dan transfer pengetahuan semata. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu memantik semangat seluruh unsur ranting untuk bergerak bersama.
“Kita ingin dari forum ini lahir PRM Tirtonirmolo Barat yang lebih hidup, lebih gerak, dan lebih bermanfaat,” lanjut Sofriyanto.
Mengundang “Virus” Kebaikan
Sofriyanto menggambarkan semangat yang tumbuh di PRM Gading sebagai sebuah “virus kebaikan dan keunggulan” yang sengaja diundang untuk ditularkan di lingkungan PRM Tirtonirmolo Barat.
“Kita ingin virus kebaikan, virus keunggulan, dan virus juara ranting Gading itu masuk dan menular ke dalam Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Barat,” ujar Sofriyanto.
Dua kali menjadi finalis nasional menunjukkan bahwa di balik prestasi tersebut terdapat semangat, tradisi dakwah, kerja bersama, dan kemauan untuk terus bergerak ketika melihat kebutuhan umat.
“Itu artinya, di Gading ada virus semangat. Ada virus dakwah. Ada virus tidak bisa diam kalau melihat umat membutuhkan,” ungkap Sofriyanto.
Karena itu, PRM Tirtonirmolo Barat, menurut Sofriyanto, sengaja membuka ruang untuk belajar dari pengalaman tersebut.
“Virus itu kita undang sengaja. Kita PRM Tirtonirmolo Barat buka pintunya lebar-lebar. Kita bilang: masuklah virus kebaikan itu ke Tirtonirmolo Barat,” katanya.
Sofriyanto juga optimistis, energi positif yang lahir dari satu komunitas dapat menggerakkan lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan.
“Kita yakin, satu api kecil bisa membakar seribu obor. Satu energi kebaikan bisa menular ke seribu hati,” pungkasnya.
Pengajian rutin bulanan ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar PRM Tirtonirmolo Barat untuk membangun budaya organisasi yang terus belajar, terbuka terhadap pengalaman ranting lain, dan berorientasi pada kebermanfaatan bagi umat.
Bagi PRM Tirtonirmolo Barat, kemandirian ranting bukan sekadar tentang kemampuan mengelola organisasi dan keuangan, tetapi tentang membangun manusia-manusia yang memiliki kesadaran, tanggung jawab, semangat dakwah, dan keberanian untuk terus bergerak memberikan manfaat.
