Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

LPCR.OR.ID – SLEMAN – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) yang sedang mengikuti program pengabdian masyarakat melalui KKN Mubaligh HIjrah (MH) mengadakan pelatihan Master of Ceremony (MC) bagi remaja Masjid An-Nur di Dusun Klembon, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (05/03/2026).

Pelatihan ini menjadi salah satu program kerja mahasiswa KKN MH yang bertujuan untuk meningkatkan keaktifan serta partisipasi remaja dalam berbagai kegiatan di masjid. Selama menjalankan kegiatan KKN MH di wilayah tersebut, mahasiswa mengamati bahwa keterlibatan remaja dalam kegiatan masjid masih belum maksimal. Hal tersebut mendorong mahasiswa untuk menghadirkan program yang dapat memotivasi sekaligus membekali remaja dengan keterampilan yang bermanfaat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan pelatihan MC. Kemampuan menjadi pembawa acara dinilai penting karena sering dibutuhkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, baik kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial lainnya. Melalui pelatihan ini, mahasiswa berharap para remaja dapat memiliki keterampilan public speaking sekaligus meningkatkan rasa percaya diri untuk tampil di depan umum.

Kegiatan pelatihan dimulai dengan penyampaian materi mengenai pengertian MC, tugas dan tanggung jawab seorang MC, serta berbagai tips untuk menjadi MC yang baik. Mahasiswa juga menjelaskan peran penting MC dalam sebuah acara, karena seorang MC bertugas mengatur jalannya acara agar dapat berlangsung tertib, terarah, dan sesuai dengan susunan acara yang telah direncanakan.

Selain memberikan penjelasan mengenai teori dasar, mahasiswa juga menyampaikan beberapa teknik yang dapat membantu untuk tampil lebih percaya diri saat berbicara di depan umum. Teknik tersebut antara lain mengatur intonasi suara, menggunakan bahasa yang jelas dan sopan, menjaga kontak mata dengan audiens, serta memperhatikan sikap tubuh saat berbicara.

Dalam pelatihan ini, para remaja juga diberikan contoh teks MC yang biasa digunakan dalam berbagai kegiatan di masjid, seperti acara pengajian. Contoh teks tersebut kemudian dijadikan sebagai panduan bagi para remaja untuk mempraktikkan secara langsung peran sebagai pembawa acara.

Pada awal kegiatan, suasana pelatihan terlihat cukup canggung. Sebagian besar remaja yang mengikuti kegiatan tampak malu dan ragu untuk tampil di depan teman-temannya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa untuk menciptakan suasana pelatihan yang lebih santai dan mendukung.

Mahasiswa kemudian memberikan contoh secara langsung bagaimana cara membawakan acara dengan baik. Melalui contoh tersebut, para remaja dapat melihat secara langsung bagaimana seorang MC membuka acara, membacakan susunan acara, hingga menutup kegiatan dengan baik. Setelah itu, para remaja diminta untuk mencoba praktik menjadi MC secara bergantian. Setiap remaja diberikan kesempatan untuk membacakan teks MC yang telah disediakan sebelumnya.

Meski masih terlihat gugup, beberapa remaja mulai berani mencoba praktik langsung. Mereka berusaha membacakan teks dengan suara yang cukup jelas meskipun sesekali masih terlihat ragu. Mahasiswa kemudian memberikan masukan dan evaluasi terkait cara penyampaian, intonasi suara, serta sikap tubuh saat berbicara di depan audiens.

Salah satu pengurus Masjid An-Nur mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan pelatihan MC dapat memberikan manfaat bagi para remaja meskipun sebagian dari mereka masih malu untuk tampil.

“Kegiatan ini sudah bagus karena memberikan ilmu baru kepada para remaja. Memang masih banyak yang malu untuk tampil, tapi setidaknya mereka sudah mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjadi MC dan berbicara di depan umum,” ujarnya.

Melalui kegiatan pelatihan ini, mahasiswa berharap para remaja dapat lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya kegiatan yang diselenggarakan di masjid. Dengan adanya keterampilan menjadi MC, para remaja diharapkan dapat berperan aktif dalam memandu acara seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, maupun kegiatan sosial lainnya.

Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi remaja untuk terus mengembangkan kemampuan public speaking mereka. Dengan kemampuan tersebut, para remaja tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga dapat menjadi bagian dalam menghidupkan berbagai aktivitas di lingkungan masjid dan masyarakat sekitar.

Kontributor: Khairunisa Trisna Safitri*

Bagikan