Oleh Sofriyanto Solih M*
LPCR.OR.ID – Akhir-akhir ini muncul fenomena yang menarik yaitu meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap Muhammadiyah, yang oleh sebagian kalangan di Muhammadiyah disebut sebagai fenomena “log-in Muhammadiyah.” Istilah ini secara simbolik menggambarkan masuknya generasi muda ke dalam ekosistem gerakan Muhammadiyah, baik secara ideologis, kultural, maupun administratif melalui keanggotaan formal. Istilah “Log-in” tidak hanya berarti terdaftar sebagai anggota melalui sistem digital e-KTAM (Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah Elektronik), tetapi juga mencerminkan keterhubungan awal dengan ide, nilai, dan semangat gerakan yang dibawa oleh Muhammadiyah.
Munculnya fenomena “log-in Muhammadiyah” ini terasa kuat terutama di media sosial. Beberapa faktor penyebab kuatnya fenomena “log-in Muhammadiyah” tersebut antara lain, pertama, daya tarik terhadap pemikiran keagamaan Muhammadiyah yang rasional dan progresif, misalnya keputusan terkait Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang merupakan keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah tanggal 13–15 Syakban 1445 H bertepatan dengan 23–25 Februari 2024 M di Kampus Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (Berita Resmi Muhammadiyah Nomor 05/2022–2027/Zulkaidah 1446 H/Mei 2025 M). Keputusan Muhammadiyah tentang KHGT dipandang oleh sebagian anak muda sebagai langkah rasional dan progresif dalam merespons problem klasik umat Islam terkait perbedaan kalender hijriah selama ini. Bagi sebagian anak muda, KHGT dipandang bukan sekadar isu kalender, tetapi simbol keberanian Muhammadiyah untuk berpikir maju dan menyelesaikan problem klasik umat. Di saat banyak pihak terjebak pada perdebatan yang berulang setiap tahun, Muhammadiyah menawarkan solusi. Hal ini juga memberikan kesan bahwa pemikiran Muhammadiyah tidak stagnan, tetapi responsif dan adaptif terhadap tantangan global.
Kedua, penyebab kuatnya fenomena “log-in Muhammadiyah adalah, inovasi digital e-KTAM melalui aplikasi MASA yang mempermudah proses pendaftaran anggota Muhammadiyah. E-KTAM melalui aplikasi MASA (merupakan salah satu ekosistem digital yang dikembangkan Muhammadiyah) dilaunching dalam perayaan Milad Muhammadiyah ke-113 tanggal 18 November 2025 di Bandung. Kemudahan akses menjadi anggota melalui aplikasi MASA menjadi daya tarik sehingga mucul fenomena “log-in Muhammadiyah” ini. Bergabung dengan Muhammadiyah melalui MASA tidak lagi rumit. Cukup melalui gawai, seseorang sudah bisa menjadi bagian dari Muhammadiyah. Ini adalah wajah baru organisasi yang adaptif terhadap zaman. Aplikasi MASA mencerminkan penerapan prinsip digital engagement (tingkat keterlibatan aktif Muhammadiyah melalui platform digital) yang menjawab tiga aspek: mudah digunakan, efisien, dan relevan dengan gaya hidup digital generasi muda (terlepas dari masih adanya catatan-catatan e-KTAM dalam aplikasi MASA menurut penulis sebagai Ketua PRM).
KHGT dan MASA (e-KTAM) menunjukkan kesesuaian nilai-nilai Muhammadiyah dengan karakter generasi muda masa kini yang cenderung memilih media, komunitas, atau organisasi, yang mampu memenuhi hobi maupun kebutuhan mareka baik itu kebutuhan kognitif, afektif, maupun sosialnya. Muhammadiyah, dengan pendekatan Islam berkemajuan dan dakwah yang menggembirakan, telah mampu menawarkan narasi keagamaan yang tidak hanya normatif tetapi rasional dan kontekstual.
Pertanyaan pentingnya adalah: sejauh mana fenomena “log-in Muhammadiyah” tersebut telah terkonfirmasi oleh data empiris? Hingga saat ini, klaim tentang peningkatan signifikan keanggotaan dalam fenomena “log-in Muhammadiyah” tersebut bagi penulis masih memerlukan verifikasi berbasis data resmi yang terukur dan terbuka. Bisa jadi yang menguat adalah persepsi publik dan intensitas percakapan di media sosial, bukan lonjakan angka keanggotaan. Perlu menjadi perhatian bahwa tidak semua “log-in” mencerminkan komitmen ideologis yang kuat, sebagian mungkin masih berada pada tahap simpati atau respek. Artinya, masuknya anak muda ke Muhammadiyah bisa jadi bukan semata-mata karena pemahaman mendalam misalnya terhadap manhaj tarjih, tetapi karena citra positif yang sedang menguat. Fenomena ini sah-sah saja dan bahkan perlu disyukuri, namun juga harus diantisipasi dengan proses kaderisasi yang lebih sistematis agar simpati tersebut bertransformasi menjadi loyalitas dan komitmen berbasis ideologi yang kuat.
Ancaman “Log-Out” adalah Ketika Citra Tidak Dijaga
Di balik euforia “log-in,” ada hal yang perlu direnungkan lebih lanjut. Kita semua mengetahui bahwa dalam kehidupan hampir semua hal memiliki pasangan: siang dan malam, naik dan turun, masuk dan keluar, berhasil dan gagal. Demikian pula jika hari ini kita menyaksikan fenomena “log-in Muhammadiyah,” maka bukan tidak mungkin suatu saat muncul fenomena sebaliknya yaitu “log-out Muhammadiyah.” Artinya sederhana, orang-orang yang hari ini tertarik, suatu saat bisa berbalik arah menjadi kecewa, menjauh, bahkan meninggalkan Muhammadiyah. Dan di era media sosial seperti sekarang, proses itu bisa terjadi dengan sangat cepat karena kita hidup di zaman ketika “reputasi baik” bisa dibangun dalam hitungan hari, tetapi bisa jatuh-runtuh juga dalam hitungan hari. Salah ucap, salah respons, atau salah kebijakan bisa menjadi pemicu gelombang kekecewaan publik apalagi bagi generasi muda kritis dan sensitif yang tidak segan menyuarakan ketidakpuasan.
Di sinilah tantangan sebenarnya, fenomena “log-in” sering kali didorong oleh simpati dan citra positif. Namun anak muda yang tertarik karena “kesan keren,” “pemikiran maju,” atau “akses yang mudah,” belum tentu memiliki komitmen dan memahami secara mendalam nilai dan manhaj Muhammadiyah.
Setiap fenomena “log-in” selalu mengandung potensi “log-out.” Di era media sosial, sebagaimana dijelaskan di atas, satu kesalahan kecil baik berupa pernyataan, sikap, maupun kebijakan, dapat dengan cepat viral dan berdampak luas. Publikpun dapat dengan mudah menarik dukungan dari individu atau lembaga yang dianggap tidak sesuai lagi dengan ekspektasi mereka. Bagi Muhammadiyah, tantangan ini menjadi penting karena posisinya sebagai organisasi besar perlu dikelola dengan baik agar kemudian tidak menimbulkan rasa tidak nyaman di kalangan anggota, terutama generasi muda yang cenderung kritis, ekspresif, dan reaktif.
Konsistensi dan Keteladanan adalah Kunci Keberlanjutan
Fenomena “log-in Muhammadiyah” adalah momentum berharga yang menunjukkan bahwa Muhammadiyah masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perubahan zaman. Namun, momentum ini tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. Ia harus dikelola dengan baik untuk menjaga agar fenomena “log-in” tidak berbalik menjadi “log-out.” Untuk itu Muhammadiyah perlu memperkuat beberapa aspek strategis.
Pertama, konsistensi nilai. Apa yang disampaikan oleh pimpinannya harus sejalan dengan apa yang dilakukan. Program kerja harus sejalan dengan realisasinya. Ketidaksesuaian antara harapan dan realitas biasanya dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan yang mendorong individu untuk menjauh. Kedua, penguatan kaderisasi. Masuknya anggota baru harus diikuti dengan proses pembinaan yang sistematis, agar mereka tidak hanya menjadi “anggota administratif,” tetapi juga menjadi “kader ideologis.” “Log-in” harus diikuti dengan “plug-in” yakni keterhubungan yang lebih dalam dengan nilai, gerakan, dan komunitas Muhammadiyah. Tanpa itu, keanggotaan hanya akan menjadi formalitas administratif. Momentum ini juga menuntut kemampuan komunikasi yang lebih adaptif. Muhammadiyah perlu hadir dengan bahasa yang segar, tanpa kehilangan kedalaman dan menyapa generasi muda tanpa kehilangan jati diri. Ketiga, komunikasi publik yang adaptif. Muhammadiyah perlu terus mengembangkan strategi komunikasi yang mampu menjangkau generasi muda, tanpa kehilangan kedalaman substansi. Bahasa yang komunikatif, narasi yang relevan, dan penggunaan platform digital yang tepat menjadi kunci penting, tentu dengan mengedepankan prinsip tertib administrasi dan tertib organisasi.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya seberapa banyak orang yang “log-in,” tetapi seberapa kuat mereka bertahan, berproses, tumbuh. “Log-in” adalah pintu masuk menuju proses lebih lanjut yaitu memahami, menghayati, dan pada akhirnya memberi kontribusi dalam gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi Muhammadiyah: bukan sekadar menarik, tetapi juga merawat dan menguatkan mereka yang sudah rame-rema “log-in” dan mereka yang sudah ada di dalam sejak lama sebelum adanya fenomena “log-in.”
* Ketua PRM Tirtonirmolo Barat, Kasihan, Bantul
