Meneguhkan Profesionalitas Muhammadiyah: Urgensi Kantor bagi PCM dan PRM
Ada satu ironi yang pelan-pelan terasa, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Di banyak tempat, Muhammadiyah tampil begitu megah melalui amal usahanya: sekolah berdiri kokoh, klinik dan rumah sakit beroperasi modern, bahkan kampus menjulang dengan fasilitas membanggakan. Namun di saat yang sama, kita sering kesulitan menjawab satu pertanyaan sederhana: di mana kantor resmi pimpinan cabangnya?
Kita bisa menemukan ruang kepala sekolah yang rapi dan berwibawa. Kita bisa melihat ruang dokter yang bersih dan profesional. Kita bisa menyaksikan gedung-gedung pendidikan yang tertata dengan sistem manajemen yang baik. Tetapi ketika mencari ruang Ketua PCM atau sekretariat PRM, jawabannya seringkali: “sementara di masjid,” “pakai ruang kelas,” atau “ikut di AUM.” Bahkan tidak jarang, tidak ada tempat tetap sama sekali.
Ini bukan sekadar soal tempat. Ini adalah soal wajah organisasi. Jangan sampai Muhammadiyah tampak sangat kuat pada amal usaha, tetapi justru terlihat lemah pada struktur organisasinya sendiri. Jangan sampai “buah” terlihat lebih terawat daripada “akar” yang menopangnya.
Realitas yang Perlu Kita Akui
Hari ini, banyak Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM):
- Tidak memiliki kantor tetap
- Menumpang di masjid
- Menggunakan ruang kelas sekolah
- Nebeng di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)
- Bahkan ada yang berpindah-pindah tempat
Semua itu tidak salah. Bahkan itu bagian dari semangat dakwah yang patut diapresiasi.
Namun jika kita jujur, kondisi ini menyisakan persoalan:
- Administrasi tidak tertata rapi
- Arsip tidak terpusat
- Identitas organisasi kurang terlihat
- Tamu tidak diterima secara profesional
Ketimpangan yang Diam-Diam Terjadi
Mari kita bandingkan secara jernih.
- Ruang kepala sekolah Muhammadiyah: rapi, nyaman, representatif
- Ruang dokter di klinik Muhammadiyah: profesional, modern
- Gedung kampus Muhammadiyah: megah dan membanggakan
Tetapi…
Di mana ruang Ketua PCM?
Di mana meja kerja pimpinan cabang?
Di mana ruang rapat resmi organisasi?
Jangan sampai organisasi besar ini justru tidak memiliki “rumah” yang layak untuk mengelola gerakannya sendiri.
Sebuah Contoh yang Menggugah: PRM Karanglo Banyumas
Di tengah kondisi umum tersebut, kita menemukan secercah harapan.
Sebuah Pimpinan Ranting Muhammadiyah di Karanglo, Cilongok, Banyumas—yang secara struktur adalah level paling bawah justru mampu menghadirkan:
- Gedung dakwah sendiri
- Kantor PRM yang representatif
- Ruang pelayanan umat
- Identitas organisasi yang kuat dan terlihat
Ini bukan sekadar bangunan.
Ini adalah pesan kuat:
Bahwa ranting pun bisa profesional. Bahwa dakwah tidak harus selalu identik dengan keterbatasan fasilitas.
Meluruskan Persepsi: Ini Bukan Soal Kemewahan
Seringkali muncul kekhawatiran:
“Apakah ini tidak bertentangan dengan kesederhanaan Muhammadiyah?”
Jawabannya: tidak.
Yang kita dorong bukan kemewahan, tetapi:
- Kerapihan
- Keteraturan
- Profesionalitas
- Kewibawaan organisasi
Kantor bukan simbol gaya hidup.
Kantor adalah alat perjuangan.
Mengapa Kantor Itu Penting?
Minimal ada 5 fungsi strategis:
- Pusat Kendali Organisasi
Semua program, keputusan, dan koordinasi terpusat. - Identitas & Wibawa
Organisasi terlihat nyata, bukan sekadar nama. - Pelayanan Umat
Tempat menerima tamu, konsultasi, hingga dakwah langsung. - Tertib Administrasi
Arsip, dokumen, dan data tersimpan dengan baik. - Regenerasi Kader
Anak muda melihat bahwa Muhammadiyah itu serius dan profesional.
Saatnya Menjadi Gerakan yang Lebih Tertata
Kita tidak sedang mengubah ruh Muhammadiyah.
Kita sedang meningkatkan cara mengelolanya.
Dari:
- Gerakan berbasis spontanitas
Menuju:
- Gerakan berbasis sistem
Dari:
- Sekadar berjalan
Menuju:
- Tertata dan terarah
Seruan untuk PCM dan PRM di Seluruh Indonesia
Sudah saatnya kita mulai berpikir:
- Bagaimana setiap PCM memiliki kantor sendiri
- Bagaimana setiap PRM minimal memiliki sekretariat tetap
- Bagaimana kantor itu menjadi pusat dakwah, bukan sekadar simbol
Tidak harus langsung besar.
Tidak harus langsung megah.
Mulai dari yang sederhana, tapi milik sendiri, tertata, dan hidup.
Penutup: Jangan Sampai Kita Tertinggal oleh Amal Usaha Sendiri
Jangan sampai:
- Sekolah kita megah, tapi pimpinan cabangnya tidak punya ruang
- Klinik kita modern, tapi pimpinan rantingnya tidak punya meja
- AUM kita berkembang, tapi organisasinya tidak punya kantor
Karena sejatinya:
AUM adalah buah.
Organisasi adalah akarnya.
Jika akar tidak kita kuatkan, maka cepat atau lambat, buah pun akan kehilangan daya hidupnya.
Muhammadiyah tidak cukup hanya besar, ia harus tertata.
Tidak cukup hanya ikhlas, ia harus profesional.
Dan profesionalitas itu dimulai dari satu hal sederhana: punya rumah sendiri.
Oleh :
Irfan Sholahuddin Gozali. M.E
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber – Kab. Cirebon – Jabar
