LPCR.OR.ID – Setelah mengalami masa vakum selama lebih dari lima tahun, Masjid Al Furqon Muhammadiyah Jetis melakukan percepatan perbaikan tata kelola. Momentum kebangkitan tersebut ditandai dengan terselenggaranya rapat rutin perdana yang dihadiri oleh jemaah, Ketua PCM Jetis Mojokerto, serta aktivis masjid yang peduli terhadap masa depan Masjid Al Furqon.
Rapat yang berlangsung penuh semangat dan optimisme tersebut menjadi titik awal penyusunan arah baru pengelolaan masjid yang akuntabel. Semua peserta menyadari bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, pemberdayaan masyarakat, serta wadah pengembangan generasi muda.
Dalam rapat perdana tersebut, lahir tiga terobosan strategis yang menjadi fondasi pengembangan Masjid Al Furqon ke depan, yaitu penguatan manajemen masjid, penetapan target yang terukur, dan penerapan sistem keuangan yang transparan.
Penguatan Manajemen Masjid yang Profesional
Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh banyak masjid adalah pengelolaan yang belum berjalan secara sistematis. Oleh karena itu, rapat perdana Masjid Al Furqon menghasilkan kesepakatan untuk menerapkan manajemen yang lebih baik dan profesional.
Langkah awal yang dilakukan adalah menyusun struktur kepengurusan yang jelas dengan melibatkan jemaah terbaik yang selama ini aktif memakmurkan masjid. Keterlibatan jemaah yang memiliki kompetensi, integritas, serta komitmen ini diharapkan mampu menghadirkan angin segar dalam organisasi kemasjidan.
Tidak hanya membentuk kepengurusan, rapat juga membahas pembagian tugas dan tanggung jawab secara rinci. Setiap bidang diberikan amanah yang jelas sehingga seluruh program dapat berjalan efektif dan terukur. Dengan adanya pembagian tugas yang baik, setiap pengurus memahami perannya dalam mewujudkan visi besar Masjid Al Furqon sebagai masjid yang hidup, berkembang, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Penerapan manajemen yang baik diyakini menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan program di masa mendatang. Sebab, keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh semangat, tetapi juga oleh sistem yang mampu menjaga kesinambungan gerakan.
Menetapkan Target Tahunan yang Terukur
Terobosan kedua yang dihasilkan adalah penetapan target dan sasaran tahunan yang dapat diukur secara objektif. Pengurus sepakat bahwa kemajuan masjid harus memiliki indikator yang jelas agar setiap program dapat dievaluasi secara berkala.
Salah satu target utama yang menjadi perhatian adalah peningkatan jumlah jemaah tetap. Pengurus menyadari bahwa masjid yang makmur bukan hanya ditandai oleh bangunan yang megah, melainkan oleh ramainya jemaah yang memakmurkannya.
Selain itu, rapat juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda. Selama ini, tantangan yang dihadapi banyak masjid adalah minimnya partisipasi anak muda. Padahal, mereka merupakan aset penting yang akan melanjutkan estafet dakwah dan pengelolaan masjid pada masa depan.
Karena itu, Masjid Al Furqon berkomitmen menghadirkan berbagai program yang mampu menarik minat remaja dan pemuda. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi peserta kegiatan, tetapi juga diberikan ruang untuk berkontribusi, berkreasi, dan mengambil peran dalam aktivitas masjid. Melalui pendekatan yang terbuka dan kolaboratif, Masjid Al Furqon diharapkan dapat menjadi rumah yang nyaman bagi generasi muda untuk belajar dan mengabdikan potensinya demi kemaslahatan umat.
Membangun Kepercayaan Jemaah Melalui Transparansi Keuangan
Hasil penting ketiga dari rapat perdana ini adalah komitmen untuk menerapkan sistem keuangan yang transparan dan akuntabel. Pengurus meyakini bahwa kepercayaan jemaah merupakan modal utama dalam memajukan masjid.
Sebagai bentuk transparansi, Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag., selaku Ketua DKM Al Furqon menyampaikan, “Laporan keuangan masjid mohon disampaikan secara rutin kepada jemaah sebelum pelaksanaan khotbah Jumat dimulai. Momentum itu menjadi waktu berkumpulnya jemaah dalam jumlah besar sehingga informasi dapat diterima secara luas.”
Selain diumumkan secara langsung, laporan keuangan juga akan dicetak dan dipasang pada papan informasi atau mading besar di area luar masjid. Dengan demikian, jemaah dapat melihat kondisi keuangan masjid kapan saja secara terbuka dan mudah. Melalui mekanisme ini, jemaah dapat mengetahui secara jelas pemasukan, pengeluaran, serta posisi keuangan masjid setiap bulannya.
Transparansi tersebut tidak hanya bertujuan untuk memberikan informasi, tetapi juga membangun rasa memiliki di kalangan jemaah. Ketika kondisi keuangan masjid mengalami surplus, jemaah dapat mengetahui bahwa amanah yang diberikan telah dikelola dengan baik. Sebaliknya, apabila kondisi keuangan sedang defisit, informasi tersebut dapat menjadi sarana pendekatan yang halus kepada jemaah untuk ikut berpartisipasi mendukung keberlangsungan program masjid melalui infak dan sedekah.
Menyongsong Masa Depan yang Lebih Baik
Rapat rutin perdana ini menjadi tonggak penting kebangkitan Masjid Al Furqon Muhammadiyah Jetis setelah vakum selama lebih dari lima tahun. Tiga terobosan yang dihasilkan menunjukkan adanya semangat baru untuk membangun tata kelola masjid yang profesional, terukur, dan transparan.
Dengan manajemen yang baik, target yang jelas, serta keterbukaan kepada jemaah, Masjid Al Furqon optimistis dapat kembali menjadi pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Lebih dari itu, masjid diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda sehingga estafet perjuangan memakmurkan masjid dapat terus berlanjut dari generasi ke generasi.
Kebangkitan Masjid Al Furqon ini menjadi bukti bahwa dengan semangat kebersamaan, komitmen yang kuat, dan sistem yang baik, masjid dapat kembali hidup dan memainkan peran strategis dalam membangun peradaban umat pada era sekarang.
