Tunjukkan Karya Cabang Ranting-mu, menangkan hadiah puluhan juta rupiah!

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Wakil Sekretaris LPCRPM PP Muhammadiyah

LPCR.OR.ID – Pengurus Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta menyelenggarakan pertemuan konsolidasi pengurus LPCRPM tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Kegiatan yang berlangsung di Asrama SMA Muhammadiyah 12 Jakarta ini dihadiri sekitar 150 peserta.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi, menyatukan langkah, serta membangun gerakan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah yang lebih maju, solid, dan berdampak bagi masyarakat.

Pertemuan tersebut juga menjadi ajang sosialisasi berbagai program unggulan LPCRPM PP Muhammadiyah, di antaranya CRM Award (Cabang, Ranting, dan Masjid Award), AM3 (Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah), serta SECARA (Sekolah Cabang dan Ranting Muhammadiyah).

Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan penuh PCM Matraman yang diketuai oleh Latif R. Utomo, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua LPCRPM PWM DKI Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, hadir tiga pembicara utama yang menyampaikan gagasan penting mengenai penguatan cabang, ranting, masjid, serta masa depan gerakan Muhammadiyah.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta periode 2022–2027, Dr. Akhmad H. Abubakar, S.E., M.M., menekankan pentingnya memperkuat sinergi antar-LPCRPM berbasis data. Menurutnya, pengelolaan cabang, ranting, dan masjid harus dilakukan secara lebih terencana agar mampu memberikan pelayanan dan pemberdayaan yang lebih besar kepada jamaah.

Selain itu, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan Muhammadiyah. Karena itu, diperlukan pembinaan dan pendampingan agar anak muda memiliki ruang untuk terlibat aktif dalam pengelolaan masjid, organisasi, dan kegiatan dakwah secara profesional serta berkelanjutan.

Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, H. Muhammad Jamaluddin Ahmad, S.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa penguatan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah harus dilakukan melalui sistem yang terukur dan berbasis data. Menurutnya, organisasi yang kuat membutuhkan pemetaan yang jelas agar setiap program dapat disusun secara tepat dan memberikan dampak nyata bagi jamaah.

Dalam upaya memperkuat tata kelola organisasi berbasis digital, LPCRPM PP Muhammadiyah memperkenalkan sejumlah platform yang dirancang untuk mendukung pelayanan, administrasi, serta pengelolaan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. Platform tersebut meliputi:

  • SalamMu, yaitu superapp atau aplikasi utama terpadu milik Muhammadiyah yang berfungsi sebagai sarana pelayanan, komunikasi, dan dakwah digital bagi warga Muhammadiyah.
  • SIMasMu (Sistem Informasi Masjid Muhammadiyah), yaitu sistem yang digunakan untuk pendataan, pengelolaan, serta pemetaan kondisi dan berbagai kegiatan masjid Muhammadiyah agar lebih terarah dan terorganisasi.
  • NotulenMu, yaitu aplikasi pencatatan dan administrasi digital yang digunakan untuk mendokumentasikan hasil rapat, keputusan, dan berbagai kegiatan organisasi secara sistematis.
  • SiCARA (Sistem Informasi Cabang dan Ranting), yaitu sistem pengelolaan basis data yang memuat profil, perkembangan, serta data administrasi cabang dan ranting Muhammadiyah secara transparan dan terintegrasi.

Melalui berbagai platform tersebut, LPCRPM PP Muhammadiyah mendorong cabang, ranting, dan masjid agar memiliki tata kelola yang lebih modern, berbasis data, serta mampu merespons kebutuhan jamaah secara lebih efektif.

CRM Award bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan penghargaan, melainkan sebuah gerakan kebangkitan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah. Ukuran keberhasilannya bukan hanya penghargaan yang diperoleh, tetapi sejauh mana program tersebut mampu membawa perubahan nyata bagi jamaah dan persyarikatan.

Muhammad Jamaluddin Ahmad juga menyoroti pentingnya peningkatan peran generasi muda dalam dakwah Muhammadiyah. Data menunjukkan bahwa program dakwah yang menyasar kaum muda masih perlu diperkuat. Oleh karena itu, LPCRPM terus mendorong berbagai program pembinaan dan akademi agar anak muda memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak masjid dan organisasi Muhammadiyah di masa depan.

Menghidupkan Ranting sebagai Basis Gerakan Umat

Dalam sambutannya, Prof. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menyampaikan pentingnya mengembalikan Muhammadiyah sebagai gerakan umat yang berbasis ideologi dan komunitas.

Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh hanya dipahami sebagai organisasi yang mengelola amal usaha seperti sekolah, rumah sakit, dan berbagai layanan sosial. Seluruh amal usaha tersebut harus ditempatkan sebagai instrumen dakwah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Amal usaha juga menjadi sarana menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa kemajuan, kemaslahatan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Kekuatan Muhammadiyah bukan semata-mata terletak pada banyaknya amal usaha yang dimiliki, tetapi pada kuatnya ikatan anggota, kader, dan komunitas yang memiliki nilai, tujuan, serta semangat perjuangan bersama. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus memperkuat basis ideologinya agar tetap memiliki jati diri sebagai gerakan yang tumbuh dari masyarakat dan hadir untuk menjawab kebutuhan umat.

Menurut Abdul Mu’ti, ranting merupakan ujung tombak gerakan Muhammadiyah. Ranting akan hidup dan berkembang apabila terdapat hubungan yang kuat antaranggota serta ruang-ruang kebersamaan yang terus dirawat. Oleh karena itu, kegiatan seperti pengajian, salat berjamaah, aktivitas sosial, olahraga, pertemuan komunitas, dan berbagai kegiatan yang membangun kedekatan perlu terus diperbanyak.

Ranting tidak boleh hanya menjadi tempat menjalankan rapat-rapat organisasi, tetapi harus menjadi rumah bersama yang membuat warga Muhammadiyah merasa memiliki, nyaman, dan bahagia berada di dalamnya. Dari ranting yang hidup, tumbuh hubungan sosial yang kuat, kader yang militan, serta gerakan dakwah yang semakin dekat dengan masyarakat.

Selain memperkuat hubungan internal, Muhammadiyah juga harus hadir secara terbuka di tengah masyarakat. Masjid, layanan sosial, dan berbagai kegiatan ranting perlu menjadi ruang bersama yang memberikan manfaat bagi semua kalangan. Pendekatan yang ramah dan inklusif akan memperkuat dakwah Muhammadiyah tanpa kehilangan identitas dan prinsip keagamaannya.

Membangun Militansi Kader dan Kemandirian Ranting

Prof. Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa bermuhammadiyah berarti memiliki keyakinan, keberanian menunjukkan identitas, serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Militansi kader bukan berarti bersikap tertutup, melainkan menunjukkan keteguhan nilai sekaligus kemampuan menghargai perbedaan.

Karena itu, ranting Muhammadiyah tidak boleh bergantung hanya pada satu tokoh atau figur tertentu. Kekuatan ranting harus dibangun melalui kaderisasi, partisipasi anggota, dan kerja bersama seluruh warga Muhammadiyah.

Muhammadiyah harus bergerak sebagai umat yang solid, bukan sekadar kelompok yang berjalan sendiri-sendiri. Dengan kader yang kuat, hubungan sosial yang baik, serta gerakan yang terorganisasi, ranting dapat tumbuh menjadi pusat dakwah, pemberdayaan, dan perubahan sosial di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk kembali menyadari bahwa kekuatan terbesar persyarikatan bukan hanya terletak pada besarnya amal usaha, tetapi pada hidupnya gerakan, kuatnya ikatan jamaah, dan hadirnya kader-kader yang memiliki semangat pengabdian.

Ranting harus menjadi rumah besar yang menghidupkan kebersamaan, menumbuhkan kepedulian, dan melahirkan perubahan di tengah masyarakat. Dengan kembali memperkuat ideologi, memperluas perjumpaan, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran, Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan yang relevan, berkemajuan, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Bagikan