Oleh: Minhajuddin*
LPCR.OR.ID – Di sebuah siang di awal tahun 2026, ketika saya duduk santai di ruang laboratorium DCC UNISA Bandung sambil membaca buku fiksi, notifikasi HP saya berdering beberapa kali. Saya tidak langsung membuka HP karena menerka mungkin pesan di grup WA kampus.
Setelah menunaikan aktivitas membaca, saya membuka HP dan mengecek pesan yang masuk. Saya menemukan pesan dari nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak. Pesannya cukup panjang dan ditutup dengan permohonan beasiswa dari KL Lazismu UNISA Bandung. Setelah berkomunikasi melalui telepon, saya mengetahui bahwa pengirim adalah seorang ibu yang sedang berjuang agar anaknya bisa tetap kuliah.
Beberapa hari kemudian, ibu dan anaknya datang menghadap di kampus. Mereka membawa dokumen beasiswa yang diperlukan. Sambil tidak banyak berbicara, anaknya hanya mendengarkan ibunya yang menjelaskan detail persoalan keluarga yang dihadapi dan kesulitan keuangan yang menghalangi anaknya untuk melanjutkan pendidikan.
Di akhir penjelasannya, sebelum saya merespons permohonannya, saya melihat sekian titik air bening yang ragu-ragu menetes dari sudut mata ibunya. Mungkin itu adalah rasa sesak yang sudah membuncah, atau harapan agar anaknya bisa diterima sebagai penerima beasiswa. Dengan berbagai pertimbangan berdasarkan pedoman di lembaga, kemampuan pendanaan, dan kesungguhan anaknya untuk tetap kuliah, saya mengakomodir permohonan beasiswa sambil menjelaskan bahwa ada hak dan kewajiban yang harus dilakukan oleh mahasiswa penerima beasiswa.
Di lain waktu, saya harus menolak permohonan beasiswa dari seorang mahasiswi, bukan karena cadangan dana lembaga yang tidak ada, tetapi dari hasil korespondensi, dia tidak menunjukkan komitmen yang kuat untuk melanjutkan kuliahnya. Penting bagi mahasiswa penerima beasiswa untuk memiliki keinginan yang kuat untuk belajar.
Selama setahun menjabat sebagai kepala kantor KL Lazismu UNISA Bandung, saya telah terbiasa menerima permohonan beasiswa melalui WA hampir setiap bulan. Meski tidak semua bisa diakomodir karena keterbatasan kapasitas dana, lembaga yang sering dianggap terpinggirkan ini memiliki peran yang sangat penting dalam membantu generasi muda melanjutkan pendidikan.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa generasi muda, khususnya di kota Bandung, memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi, namun terhambat oleh masalah finansial. Data dari BPS Kota Bandung menunjukkan bahwa garis kemiskinan tahun 2025 sebesar Rp. 644.417 dengan persentase kemiskinan sekitar 3,87 persen. Meski terkesan kecil, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan masyarakat dalam mengakses pendidikan tinggi. Banyak rumah tangga yang tergolong “tidak miskin” masih menghadapi batasan serius dalam membiayai pendidikan anak mereka.
KL Lazismu sebagai lembaga filantropi Muhammadiyah memiliki peran besar dalam membantu masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan. Sebagai lembaga yang fokus pada pendidikan, kami mandiri dalam pengembangan lembaga karena tidak ada pendanaan dari kampus, sementara ZIS dari karyawan bersifat sukarela. Artinya, belum ada kewajiban bagi seluruh karyawan untuk menyalurkan ZIS setiap bulan.
Sebagai karyawan sekaligus kepala kantor, saya mengalami dilema. Di satu sisi, saya menyadari kebutuhan keluarga karyawan yang mungkin lebih mendesak, tetapi di sisi lain, saya juga harus menolak beberapa permohonan beasiswa karena keterbatasan dana.
Kerja-kerja sunyi KL Lazismu UNISA Bandung, seperti memberdayakan mahasiswa penerima beasiswa, mengedarkan kencleng ke kelas-kelas, membuat konten media sosial, dan melakukan berbagai kegiatan sederhana lainnya, menjadi bagian dari upaya kami.
Tahun lalu, tim KL Lazismu mengadakan pelatihan untuk meningkatkan strategi fundraising kewirausahaan sosial bagi mahasiswa, agar mereka dapat menjalankan program-program kami dan meningkatkan kapasitas dana lembaga.
Dalam konteks memberi manfaat kepada sesama, saya teringat cerita Buya Syafii Maarif tentang seorang tukang bengkel. Ketika ditanya kenapa tidak sekalian menjual bensin, tukang bengkel menjawab, “Agar berbagi rezeki dengan tetangga yang punya kedai bensin.”
Sikap ini menggambarkan bahwa rezeki teman tidak perlu direbut, meskipun ada peluang terbuka lebar untuk menambah pendapatan. Mari berkontribusi pada lembaga-lembaga filantropi seperti KL Lazismu UNISA Bandung, agar dapat terus menolong sesama.
* Alumnus Hubungan Internasional, Universitas Paramadina. Saat ini aktif sebagai Pengajar pada prodi Perdagangan Internasional, Universitas ‘Aisyiyah Bandung.
