Oleh: Muhammad Ridwan, S.Ds*
LPCR.OR.ID – “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ungkapan K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 menjadi semangat dalam pertemuan antara Ketua PRM Cipada, Muhammad Ridwan, S.Ds., dan Ketua PCM Cikalongwetan, Drs. Arief Sukarnawijaya. Pertemuan tersebut berlangsung pada Ahad siang, pekan kedua bulan Syawal 1447 H, di kediaman Ketua PCM yang berlokasi di Tenjolaut. Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pimpinan ranting dan cabang dalam mengembangkan gerakan dakwah Muhammadiyah di wilayah Cikalongwetan.
Diskusi diawali dengan pembahasan silsilah dan sejarah perkembangan Muhammadiyah di Cikalongwetan. Diceritakan bahwa keberadaan Muhammadiyah di wilayah ini telah melalui perjalanan panjang dengan berbagai dinamika sosial dan keagamaan. Meski secara struktural organisasi tetap berjalan, jumlah anggota aktif masih relatif terbatas dibandingkan dengan banyaknya simpatisan yang ada.
Ketua PCM, Arief Sukarnawijaya, menjelaskan bahwa pendekatan historis sangat penting untuk membangun identitas kader. “Dengan memahami akar perjuangan Muhammadiyah di tingkat lokal, diharapkan para kader dan simpatisan memiliki rasa memiliki yang lebih kuat serta kesadaran untuk melanjutkan estafet dakwah secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada persiapan pelaksanaan ibadah Qurban dan perayaan Idul Adha. Keduanya sepakat bahwa momentum Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai sarana penguatan ukhuwah dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Distribusi hewan qurban diharapkan dapat menjangkau kalangan yang benar-benar membutuhkan.
Pentingnya pemanfaatan media sosial juga menjadi bagian dari diskusi. Dengan jumlah anggota formal yang masih sedikit, pemanfaatan platform digital menjadi strategi efektif untuk menjangkau masyarakat luas, khususnya generasi muda yang lebih dekat dengan teknologi.
Dalam konteks ini, muncul gagasan untuk menginisiasi gerakan “Login Muhammadiyah”, yaitu upaya sistematis untuk mengajak para simpatisan agar lebih mengenal, terlibat, dan pada akhirnya menjadi bagian dari struktur organisasi. Gerakan ini diharapkan menjadi jembatan antara simpatisan dan keanggotaan formal Muhammadiyah.
Sebagai tindak lanjut dari gagasan tersebut, direncanakan penyelenggaraan Darul Arqom Dasar. Kegiatan ini bertujuan memberikan pembinaan ideologis serta mengenalkan sistem dan tata cara berorganisasi di Muhammadiyah. Harapannya, dengan adanya pembinaan ini akan lahir kader-kader baru yang militan dan berintegritas.
Pertemuan ini juga membahas pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai salah satu pilar utama gerakan. AUM tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelayanan masyarakat, tetapi juga sebagai media dakwah yang konkret dan berkelanjutan dalam berbagai bidang kehidupan.
Salah satu potensi yang dibahas adalah pemanfaatan lahan di sekitar Masjid Najwa Al-Mutaihi Rende, yang merupakan aset resmi milik PCM Cikalongwetan. Lahan tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi pusat kegiatan produktif berbasis AUM, seperti pendidikan, ekonomi, atau sosial keagamaan.
Sebagai penutup, pertemuan ini menghasilkan komitmen bersama untuk terus memperkuat kolaborasi antara PRM dan PCM dalam mengembangkan Muhammadiyah di Cikalongwetan. Dengan strategi yang terarah, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kaderisasi, diharapkan Muhammadiyah di wilayah ini dapat tumbuh lebih progresif dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
* Ketua PRM Cipada, aktif berwirausaha di Sunda Naturals dan berdakwah di lingkungan PCM Cikalongwetan.
