Oleh: Irfan Sholahuddin Gozali, S.E., M.E*
LPCR.OR.ID – Malam Ramadhan selalu memiliki caranya sendiri untuk mengetuk hati. Azan Isya menggema, langkah-langkah jamaah mulai mengarah ke masjid. Sarung dirapikan, anak-anak digandeng, wajah-wajah tampak teduh, seolah tahu, inilah malam yang dinanti sepanjang tahun.
Di lingkungan yang diberkahi, kita tidak perlu bertanya ke mana harus melangkah. Masjid Muhammadiyah berdiri dekat rumah. Di sanalah shalat Tarawih ditegakkan dengan tenang dan tertib, sesuai tuntunan Tarjih Muhammadiyah tanpa kegaduhan, tanpa keraguan, penuh kekhusyukan.
Saat takbir pertama dikumandangkan, gerakan shalat terasa akrab, bacaan terasa terukur, dan hati pun menjadi lapang. Pada momen itulah kesadaran sering datang: tidak semua warga Muhammadiyah menikmati suasana Ramadhan seperti ini.
Ada yang ingin melaksanakan Tarawih sesuai Tarjih, namun harus menempuh jarak jauh. Ada yang rindu suasana Ramadhan khas Persyarikatan, namun di lingkungannya belum berdiri Cabang dan Ranting. Ada pula yang berjuang sendiri, menjadi kader di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung.
Namun bagi mereka yang hidup di lingkungan di mana Cabang dan Ranting Muhammadiyah aktif dan bergerak, masjid dan mushola hidup, serta jamaah saling menguatkan, Ramadhan benar-benar terasa hidup. Masjid tidak hanya ramai oleh shalat. Pengajian berjalan. Anak-anak mengaji. Takjil dibagikan. Kepedulian tumbuh di antara warga.
Inilah nikmat Ramadhan yang kerap kita anggap biasa, padahal sejatinya luar biasa. Karena itu, bagi siapa pun yang hari ini dapat shalat Tarawih di masjid Muhammadiyah, berjama’ah bersama tetangga sendiri, dan hidup di lingkungan Cabang dan Ranting yang aktif, berbahagialah dan bersyukurlah.
Namun Ramadhan bukan bulan untuk sekadar menikmati. Ia adalah bulan untuk terlibat lebih jauh. Hadirlah bukan hanya sebagai jamaah, tetapi sebagai bagian dari penggerak dakwah. Mari kita bantu memakmurkan masjid, menghidupkan pengajian, dan menyukseskan berbagai kegiatan Gebyar Ramadhan yang digerakkan oleh Cabang dan Ranting Muhammadiyah.
Bagi yang di lingkungannya belum ada Cabang maupun Ranting, jangan berkecil hati. Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh mereka yang menunggu keadaan sempurna, tetapi oleh orang-orang yang berani memulai dari keterbatasan. Banyak Cabang dan Ranting lahir dari Ramadhan: dari jamaah Tarawih yang istiqamah, dari musyawarah sederhana selepas shalat, dan dari niat tulus menghadirkan dakwah di lingkungan sendiri.
Karena itu, jika di sekitar kita belum ada Cabang atau Ranting, mari kita usahakan dan dirikan bersama. Dan jika sudah ada, mari kita kuatkan dan makmurkan mushola serta masjid Muhammadiyah, agar Ramadhan tidak hanya semarak, tetapi juga meninggalkan jejak amal jariyah.
Ramadhan akan pergi. Namun masjid yang hidup, Cabang dan Ranting yang bergerak, serta jamaah yang istiqamah akan terus melahirkan amal dan peradaban. Jangan biarkan Ramadhan hanya ramai lalu sepi. Mari jadikan masjid Muhammadiyah sebagai pusat ibadah, Cabang dan Ranting sebagai denyut dakwah, dan diri kita sebagai bagian dari sejarah kebaikan itu. Karena Ramadhan yang hidup adalah Ramadhan yang menggerakkan.
* Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber – Kabupaten Cirebon
