LPCR.OR.ID – Setiap rumah tangga sangat berpotensi menghasilkan minyak jelantah. Minyak jelantah merupakan minyak dari sisa hasil penggorengan yang digunakan berulang kali. Penggunaan minyak goreng dalam keluarga sangat beragam. Ada yang menggunakan untuk satu kali pemakaian namun ada yang menggunakan sampai beberapa kali pemakaian. Sebuah penelitain menyebutkan sejumlah 1186 rumah tangga di desa Sumbergondo Kota Batu menggunakan rata-rata satu liter minyak per minggu dari setiap rumah, lalu membuang limbah minyak jelantah tersebut di tempat sampah, saluran air, got, dan masuk ke tanah. Minyak goreng sisa setiap hari diakumulasikan sampai lebih dari 166 liter. Pada dasarnya minyak goreng dapat digunakan maksimal untuk 3 atau 4 kali penggorengan. Jika minyak goreng ini digunakan berkali-kali, maka kandungan asam lemak semakin jenuh dan minyak akan berubah warna yang disebut minyak jelantah. Minyak jelantah ini tidak baik untuk dikomsumsi atau digunakan kembali untuk menggoreng makanan.

Minyak jelantah ternyata selain berdampak pada kesehatan jiwa manusia juga memiliki dampak pada kesehatan lingkungan. Terlebih bila limbah tersebut dibuang di sungai atau dibuang di kantong plastik akan mengakibatkan sulit terurai dan menimbulkan masalah baru. Biasanya, minyak jelantah dibuang karena sudah tidak memiliki nilai guna. Umumnya minyak jelantah dibuang ke lingkungan tanpa adanya kontrol yang berwawasan lingkungan. Keadaan ini diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai dampak minyak jelantah terhadap lingkungan. Pencemaran lingkungan yang terdampak akibat pembuangan jelantah harus dapat dikurangi dengan upaya pengolahan limbah dari rumah tangga. Minyak jelantah yang dibuang begitu saja tanpa pengolahan yang terukur, akan membutuhkan perbaikan lingkungan yang tidak hanya sulit, tapi juga akan membutuhkan biaya yang besar. Oleh karena itu perlu adanya suatu inovasi pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Agar minyak jelantah tersebut tidak membahayakan kesehatan jiwa manusia maupun Kesehatan lingkungan sebagai sumber pencemaran lingkungan, maka diperlukan pengolahan limbah yang tepat.  

Fenomena dan pemikiran tersebut di atas menjadi relevansi kerja sama Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Pimpinan Ranting Aisyiyah Tirtonirmolo Barat Kasihan Bantul dengan Program Studi Magister Manajemen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta melalui program Pengabdian Masyarakat dan Pemberdayaan Umat (Prodamat) bagi mahasiswa Magister Manajemen untuk menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Sabun dan Lilin Aromaterapi.

Kegiatan tersebut diselenggarakan pada hari Ahad, 7 Juli 2024, mulai 08.00 s.d. 11.00 WIB di Kompleks Mushola Babul Khoir Kalipakis Tirtonirmolo, salah satu mushola di lingkungan Tirtonirmolo Barat yang cukup aktif kegiatannya.

Ketua Panitia Fahri Kurnia Rahma, yang merupakan mahasiswa Magister Manajemen UAD peserta Prodamat dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini tidak sekedar sebagai sebuah kewajiban formalitas akademik untuk memenuhi target nilai tetapi merupakan inovasi yang diberikan dalam bentuk edukasi dan transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi bernilai guna dalam produk sabun padat dan lilin aromaterapi. Diharapkan warga Tirtonirmolo khususnya Tirtonirmolo Barat akan mendapatkan manfaat dari pelatihan ini.

Sementara itu Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Barat, H. Sofriyanto Solih M, S.Pd. menyatakan bahwa kegiatan pelatihan ini diselenggarakan dalam rangka menjaga kesehatan jiwa/fisik masyarakat, kesehatan lingkungan, dan kesehatan ekonomi masyarakat.

“Dalam hal kesehatan fisik, berdasarkan sebuah kajian ilmiah bahwa bila minyak goreng jelantah ini terus menerus masuk ke dalam tubuh manusia dan terjadi akumulasi maka akan menimbulkan penyakit walaupun pengaruhnya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Dampak buruk bagi tubuh akibat mengkonsumsi minyak jelantah berlebihan antara lain terjadi deposit lemak yang tidak normal, kanker, dan kehilangan fungsi kontrol pada pusat syaraf. Namun mengingat aktifitas menggoreng yang menghasilkan minyak jelantah ini merupakan aktifitas yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan keluarga maka yang harus dilakukan adalah melakukan usaha-usaha penyeimbangan dengan mengonsumsi makanan yang dapat menetralkan dari dampak konsumsi makanan dari olahan minyak jelantah”, demikian ungkap H. Sofriyanto,

Selanjutnya, masih menurut H. Sofriyanto, dari aspek lingkungan, minyak jelantah selain menimbulkan masalah bagi kesehatan manusia juga menimbulkan masalah kesehatan lingkungan.

H. Sofriyanto melanjutkan, pada umumnya minyak jelantah dibuang begitu saja tanpa adanya kontrol yang berwawasan lingkungan. Pembuangan minyak jelantah akan menjadi limbah yang tidak baik untuk lingkungan karena hal ini menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan yaitu menimbulkan masalah pencemaran air maupun tanah. Minyak jelantah yang terserap dalam tanah dapat mencemari tanah dan berakibat menurunnya tingkat kesuburan tanah serta terbukti mempengaruhi kandungan mineral dalam air bersih.

Masih menurut H. Sofriyanto, “dari segi kesehatan ekonomi minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja, dengan pemahaman dan inovasi maka akan dapat bernilai keuntungan finansial yang menyehatkan ekonomi warga”.

Diakhir sambutan, H. Sofriyanto menyampaikan harapan agar kerja sama dengan Program Studi Magister Manajemen UAD melalui Prodamat yang sudah berjalan dua kali ini akan terus berlanjut. “Kisah dan pengalaman yang baik dari kerja sama ini semoga akan ditularkan kepada setiap angkatan dalam Prodamat selanjutnya sehingga PRM Tirtonirmolo Barat selalu dipertimbangkan oleh Magister Manajeman UAD sebagai mitra kerja sama dalam Prodamat atau program lainnya”. Demikian pungkas H. Sofriyanto mengakhiri sambutannya.

Dalam pelatihan ini disampaikan tiga materi. Materi kesatu disampaikan oleh Dr. Abdul Choliq Hidayat (yang merupakan dosen pembimbing Prodamat). Dalam sambutan dan sekaligus pengantarnya, Dr. Abdul Choliq Hidayat menyampaikan pengantar tentang tata kelola sampah rumah tangga, baik dari jenis, dampak, dan alternatif pendayagunannya agar bermanfaat.

Dalam paparan materinya, Dr. Abdul Choliq Hidayat juga menyampaikan materi tentang tantangan masalah lingkungan bagi kesehatan, faktor risiko kesehatan lingkungan akibat sampah, akibat sampah yang tidak dikelola, dampak sampah terhadap kesehatan manusia, pilar pengamanan sampah dalam keluarga, pengelolaan sampah mandiri, masa penguraian sampah, bahaya plastik bagi kesehatan,

Materi kedua dalam pelatihan ini disampaikan oleh Nurrohmah yang merupakan aktifis dalam bidang lingkungan hidup dari Ranting Aisyiyah Tirtonirmolo Barat. Nurrohmah memaparkan tentang pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun padat. Dalam materi ini langsung disimulasikan cara pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun padat.

Nurrohmah memaparkan tentang bahan, alat yang diperlukan, proses pembuatan, dan manfaatnya minyak jelantah menjadi sabun padat. Setelah pemaparan Nurrohmah melanjutkan dengan simualsi cara pembuatannya.

Materi ketiga dalam pelatihan ini adalah merupakan materi inti dari pelatihan. Materi ketiga ini disampaikan oleh Hj. Suprihatin yang menyampaikan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Pelatihan ini mengombinasikan antara teori dan praktik/simulasi. Setelah pemaparan materi dilanjutkan simulasi/praktek yang melibatkan semua peserta dengan media dan perlengkapan yang sudah disediakan oleh panitia meliputi: kompor gas, panci, cangkir sloki suvenir, dan tentu minyak jelantah yang sudah direndam arang selama 24 jam dan perlengkapan lainnya.

Kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Minyak Jelantah ini mendapat sambutan dan antusiasme warga di lingkungan Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Barat bahkan ada peserta dari Ranting Muhammadiyah Sumberadi Mlati Sleman. Awalnya panitia dari Magister Manajemen UAD membatasi peserta hanya 30 orang namun banyak warga yang berminat sehingga peserta melebihi kuota yang disediakan pihak UAD menjadi sejumlah 45 peserta. Antusiasme peserta yang sangat tinggi tersebut selain karena selama ini belum pernah terpikirkan memanfaatkan limbah minyak jelantah tersebut, peserta termotivasi juga produk lilin hasil produksinya diharapkan akan dapat berlanjut untuk dipasarkan guna memperoleh tambahan penghasilan ekonomi dalam keluarga.