Oleh: Syahda Yuniar*)
LPCR.OR.ID – Rutinitas yang padat sering kali membuat kita terjebak dalam standar yang kita buat sendiri, harus selalu produktif, gerak cepat, dan nggak boleh ketinggalan. Tuntutan ini yang ujung-ujungnya bikin capek fisik dan mental. Kita dipaksa disiplin demi memenuhi ekspektasi orang lain dan menyelesaikan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Sayangnya, disaat menuntut tubuh dan pikiran untuk terus bekerja, kita bahkan sering lupa untuk berterima kasih pada diri sendiri. Padahal, menjaga kesehatan mental itu sama pentingnya dengan menjaga performa kerja. Nah, untuk menjaga keseimbangan ini, banyak anak muda zaman sekarang terutama dari kalangan generasi z (Gen z) yang menerapkan konsep self-reward atau sebuah bentuk apresiasi kecil untuk diri sendiri karena berhasil melewati masa yang sulit atau tanggung jawab berat.
Tapi masalahnya, istilah self-reward sekarang sering dijadikan sebagai alasan untuk belanja impulsif. Konsep aslinya jauh lebih simpel dan malah disalahartikan sebagai perilaku yang konsumtif atau beli barang berlebihan. Padahal, sekedar memberi ruang untuk istirahat dari hari yang melelahkan dan menikmati momen tanpa harus memikirkan beban pekerjaan juga sudah dikatakan sebagai bentuk self-reward yang cukup. Esensi utama dari self-reward ini justru akan rusak dan hilang jika penerapannya dilakukan secara berlebihan atau berubah menjadi pemborosan demi memenuhi gengsi semata serta karena takut tertinggal tren (FOMO). Penghargaan diri yang seharusnya mendatangkan ketenangan dan memulihkan energi, justru pada akhirnya malah berujung menjadi sumber kecamasan dan bisa merugikan diri kita sendiri.
Jika dilihat dari sudut pandang nilai dan prinsip hidup, Islam sendiri sebenarnya sudah melarang keras umatnya untuk hidup secara berlebihan (Israf) “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (israf) dan kesombongan.” — HR. An-Nasa’i (No. 2559) & Ibn Majah (No. 3605) (Hadis Sahih). Sebaliknya, Islam mengajarkan untuk hidup secara proporsional. Gaya hidup hedonis yang kemudian membawa pada perilaku yang konsumtif tentu akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Perilaku yang konsumtif akan membawa pada kondisi konsumsi berlebihan yaitu konsumsi yang melebihi batas kemampuan keuangan (pendapatan) yang dimiliki sekarang. Tidak sedikit orang yang mengabaikan segala hal terkait sikap berlebih-lebihan ini. Semakin besar materi yang dimiliki seseorang, semakin besar pula gairah konsumsinya. Tetapi belum tentu sebaliknya, pendeknya, kita punya sindrom berjamaah bernama “konsumtif”. Islam juga mengajarkan agar makan, minum dan menggunakan harta, tanpa berlebihan, karena sifat boros sangat tidak disukai oleh Allah dan itu adalah sifatnya setan, seperti yang tertera pada ayat Al-Quran yang artinya; “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya,” (QS. Al-Isra [17]:27).
Jadi di era digital yang sudah sangat modern ini wajar kalau orang orang sudah sangat familiar dengan sosial media dengan menjadikan trend saat ini sebagai patokan gaya hidup. Self-reward itu bukan cuma soal pamer story di media sosial atau sekedar cari alasan untuk foya-foya setiap kali habis beresin pekerjaan sepele. Esensi utamanya itu jauh lebih dalam, yaitu sebagai bentuk apresiasi jujur ke diri sendiri agar mental kita tidak gampang tumbang atau kena burnout setelah dihajar rutinitas yang padat. Menghargai usaha sendiri itu penting banget untuk menjaga motivasi, tetapi kuncinya kita harus tahu batasan dan punya aturan yang jelas. Jangan sampai atas nama “menghargai diri sendiri,” kita malah terjebak impulsif beli barang-barang yang nggak penting yang berujung bikin dompet boncos dan menyesal di akhir bulan.
Maka dari itu, porsi self-reward ini harus benar-benar diatur dan disesuaikan dengan kondisi keungan saat ini. Ingat, hadiah untuk diri sendiri itu tidak selamanya diukur pakai nominal uang yang besar atau barang-barang yang mewah dan bermerek. Terkadang, hal sederhana seperti bisa rebahan seharian tanpa memikirkan deadline, matikan notifikasi kerjaan diakhir pekan, atau sesekali jajan makanan favorit dipinggir jalan itu sudah terasa mewah bagi sebagian orang yang jadwal hariannya super padat. Coba mulai alihkan fokusnya dari belanja barang dengan mencari pengalaman baru, misalnya mengikuti kelas hobi yang selama ini tertunda, staycation tipis-tipis untuk ganti suasana, atau sekedar pijat refleksi agar badan segar kembali. Kalau momennya sudah pas, tugas besar selesai, dan budget-nya memang cukup tanpa mengganggu tabungan masa depan, nikmati moment itu sepuasnya tanpa perlu ada rasa bersalah. Jadi, silakan manjakan dirimu secukupnya, lalu lanjut melangkah sewajarnya.
*) Mahasiswa jurusan Manajemen, ITB Ahmad Dahlan Jakarta. Sapa penulis melalui akun media sosialnya di Instagram @syhdayn_
