LPCR.OR.ID – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo Barat menyelenggarakan Salat Iduladha tahun1447/2026 pada hari Rabu 27 Mei 2026 pagi di Kompleks Pondok Pemuda Ambarbinangun. Dihadiri oleh lebih dari 2000 jamaah, Ustaz Taufiqurrohman, S.Ag. yang berlaku sebagai Imam dan Khatib menyampaikan khutbahnya full dalam bahasa Jawa.
Dalam khutbah yang berjudul “Pitutur Luhur” (Nasihat Berharga) Ustaz Taufiqurrohman yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh PCM Klaten Utara menyampaikan bahwa ada nasihat berharga dari Iduladha.
“Nasihat Pertama, Iduladha artinya kembali menyembelih. Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menyembelih hewan kurban yang memiliki dua makna, makna lahiriah dan batiniah atau majazi. Makna lahiriah artinya menyembelih hewan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam arti benar-benar hewan yang disembelih.” Ungkap Ustaz Taufiq.
“Makna batiniah artinya menyembelih nafsu hewaniah yang terdapat pada jiwa-jiwa manusia sesuai QS Al-Hajj 37 bahwa ketakwaan ada di dalam batiniah seseorang. Orang bertakwa adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya atau menyembelih nafsu hewaniahnya,” lanjut Ustaz Taufiq.
“Nasihat kedua, pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyrik setelahnya, Rasul memerintahkan untuk memperbanyak takbir yang tidak hanya terucap di lisan, namun juga takbir yang dihayati. Artinya, orang yang mengucapkan takbir dan menghayatinya adalah orang yang menyatakan hanya Allah SWT Yang Maha Besar sehingga segala sesuatu dan segala persoalan selain Allah yang ada di dunia ini (harta, tahta, keluarga) semuanya kecil dibandingkan dengan kemahabesaran Allah SWT sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam QS At-Taubah: 24, bahwa pada saat seseorang membesar-besarkan sesuatu selain Allah, mencintai sesuatu secara berlebihan selain Allah maka Allah akan murka kepadanya,” ungkap ustaz yang saat ini menjadi pengajar di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Klaten.
Ustaz Taufiq menambahkan, “Nasihat ketiga, ketika Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail sesungguhnya Allah tidak bermaksud menyuruh membunuh putranya tersebut namun Allah bermaksud agar rasa cinta selain Allah hendaklah tidak berlebih-lebihan yang bisa membutakan mata hati,” ujar Ustaz Taufiq.
“Orang yang buta mata hatinya akan sulit menerima nasihat bahkan sulit menerima kebenaran yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah dan jauh dari Rahmat Allah SWT, bahkan, Allah akan memasukkannya ke neraka Jahannam terhadap orang yang demikian itu sebagaimana tersebut dalam QS Al-a’raf: 179,” tambah ustaz Taufiq.
Ustaz Taufiq melanjutkan, “Terjadinya kerusakan dan kemaksiatan di muka bumi ini disebabkan antara lain, hawa nafsu yang tidak terkendali, membesar-besarkan urusan dunia (hubbud dunya) dan butanya mata hati seseorang. Sementara ajaran Islam mengajak kepada kebaikan dan kesejahteraan umat manusia di dunia sampai akhirat.”
Di akhir khutbahnya, Ustaz Taufiqurrohman menyampaikan pesan, “Mari kita semua mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik dengan mengamalkan nasihat berharga Iduladha. Teruslah semangat dalam berjuang dan bersabar untuk menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat sebagaimana Allah telah mengingatkan QS Al-Imran 142,” pungkas ustaz Taufiq mengakhiri khutbahnya.
Sementara itu sebelum rangkaian Salat Iduladha dimulai, Ketua PRM Tirtonirmolo Barat, Sofriyanto, menyampaikan Sambutan juga full dalam Bahasa Jawa.
Sofriyanto menyampaikan, “Iduladha mengajarkan kepada kita tentang arti keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah Swt. Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran sepanjang masa bahwa iman harus diwujudkan dalam kesediaan berkorban demi kebaikan yang lebih besar. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, semangat Iduladha mengingatkan kita untuk kembali memperkuat kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.”
“Ibadah kurban juga mengandung pesan penting bahwa harta yang kita miliki sejatinya adalah titipan Allah Swt. yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Karena itu, Iduladha hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial, membantu yang membutuhkan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar,” lanjut Sofriyanto.
Selain menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada beberapa pihak, Sofriyanto menyampaikan harapan.
“Kami berharap kegiatan Salat Id dan rangkaian Iduladha tahun ini dapat menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Tirtonirmolo Barat. Semoga semangat kebersamaan yang terbangun dapat terus dirawat dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan di masa mendatang,” pungkas Sofriyanto.
