Oleh: Attar Rausani – PR IPM PPM MBS Yogyakarta
LPCR.OR.ID – Di era digital seperti saat ini manusia telah dipermudah oleh perkembangan teknologi seperti adanya aplikasi yang memudahkan dalam pencarian informasi seperti Google, Instagram, TikTok, WhatsApp dan aplikasi lainnya, informasi atau data yang umumnya didapatkan dalam hitungan hari bahkan minggu sekarang bisa didapat dalam hitungan detik, manfaat inilah yang menjadikan teknologi digital mempermudah produktivitas manusia. Tetapi di balik berbagai manfaat tersebut, perkembangan teknologi juga menghadirkan sejumlah tantangan, dalam perkembangan di era digital arus informasi bergerak sangat cepat hingga berita asli dan berita palsu(hoax) tercampur dan beredar di internet, selain itu ada juga cyber bullying, intoleransi, ujaran kebencian, hingga konten-konten yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam yang berseliweran di media sosial, problematika inilah yang harus dihadapi pelajar dalam zaman digitalisasi saat ini.
“Sekitar 30%-60% masyarakat Indonesia terpapar hoaks di dunia maya, tetapi hanya 21%-36% saja yang mampu mengenali dan memverifikasi kebenaranya, survey juga menunjukan sekitar 44,19% masyarakat belum memiliki kecakapan dalam mendeteksi berita bohong” (kementerian keuangan 24/02/2023), Melalui data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya masih banyak rakyat Indonesia yang belum mampu mengantisipasi berita hoax dan memverifikasinya, ironisnya sekarang Indonesia sudah Memasuki Era Society 5.0 (ekon.co.id) yang dimana mayoritas masyarakat sudah menggunakan internet dan komputer untuk mencari data dan informasi, akan tetapi di era perkembangan teknologi seperti saat ini masih banyak masyarakat yang masih belum bisa memanfaatkan internet dengan bijak, sehingga tidak sedikit generasi muda yang memperoleh pemahaman agama dari sumber yang tidak sahih sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam beragama.
Kondisi inilah yang menuntut da’i untuk tidak hanya berorientasi pada pesan-pesan keagamaan yang selama ini disampaikan di atas mimbar masjid saja, akan tetapi juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan era digital melalui pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, yang artinya dakwah bisa dilakukan dalam bentuk media digital, konten, dan video edukasi. selain itu dengan metode yang berbeda jangkuan audiensnya pun juga berbeda, jika dakwah yang hanya dilakukan di masjid atau majlis ta’lim semata yang hanya menjangkau jama’ah yang hadir pada forum tersebut, akan tetapi dakwah dalam bentuk digital bisa menjangkau lebih luas dari sekedar itu, bahkan target audiens yang terdapat pada dakwah digital tidak selalu merujuk kepada jama’ah majlis ta’lim melainkan juga menggapai remaja dan anak-anak, karena dikutip dari JAKARTA, KOMPAS — Survei perusahaan riset dan analisis global, YouGov, menyebutkan, 81 persen masyarakat Indonesia aktif di media sosial. Pengguna medsos itu didominasi oleh generasi Z, kelahiran 1997-2012.sehingga nantinya dengan adanya digitalisasi dakwah islam lebih bisa tersampaikan kepada calon-calon penerus bangsa dan menjadikan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.
Dalam islam Allah menyeru umat muslim untuk mensyiarkan islam dengan metode syiar Rasulullah yaitu dari hati ke hati sebagaimana ayat berikut:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ
١٢٥ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ
QS. An-Nahl [16]: 125
yang artinya: Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.
Dari ayat tersebut Allah berfirman bahwasanya dakwah harus dilakukan dengan pengajaran yang baik serta mengajak mereka dengan komunikasi yang baik, oleh karena ayat ini da’i dituntut untuk tidak hanya mahir dalam ilmu agama saja tetapi juga memiliki komunikasi yang baik sehingga pesan dakwahnya dapat tersampaikan ke semua kalangan.
Sebagai pelajar sekaligus kader muhammadiyah yang berkemajuan, perlu bagi kita untuk menyebarkan ajaran islam secara luas dan menyeluruh kepada masyarakat agar terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya, walau harus dengan menghadapi arus digitalisasi seperti saat ini bukan penghambat semangat kader muhammadiyah untuk terus menyeru kepada kebajikan dan melarang kepada kemunkaran, dan dakwah dengan metode adaptif sangat perlu diterapkan untuk menyesuaikan arus digital dan trend dengan menggunakan keunggulan kader muhammadiyah di pemahaman teknologi dan komunikasi agar dapat menyelaraskan materi syiar dengan masyarakat saat ini, sehingga dakwah tidak hanya menjadi pesan formalitas yang singgah sebentar lalu berlalu, akan tetapi pesan yang tertanam kuat di hati dan bermanfaat bagi umat Islami.
Untuk merealisasikan pernyataan-pernyataan tersebut kader muhammadiyah harus konsisten dalam mengimplementasikan dakwah komunikatif yang relevan melalui beberapa aksi nyata:
1. Meningkatkan literasi keislaman & literasi digital
Dalam poin ini kader muhammadiyah dituntut untuk memahami literasi keislaman sebagai materi syiar dan menguasai literasi digital sebagai metode dakwah, pelajar memahami ilmu keislaman yang berdasarkan pada Al-Quran dan Assunah dan dapat mengemasnya dengan metode digital yang menginspirasi dan berdaya tarik tinggi.
2. Media sosial sebagai sarana dakwah
Dakwah tidak selamanya harus disampaikan dengan ceramah panjang dan majlis ta’lim, melainkan dengan adanya media sosial kader muhammadiyah sehingga lebih kreatif, adaptif, dan inspiratif dalam mengemas dakwah, jika media sosial dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para kader muhammadiyah jelas muhammadiyah akan semakin maju dan terpandang di mata dunia tanpa harus meninggalkan identitas keislamannya.
3. Mengedepankan komunikasi yang santun, persuasif, dan dialogis
Komunikasi yang santun lebih mudah melekat dan diterima hati masyarakat, dakwah yang bersifat persuasif juga lebih diterima dan dihargai masyarakat ketimbang dakwah yang bersifat paksaan, dan cara penyampaian dakwah yang dialogis melalui argumentasi yang rasional dengan sikap saling menghargai lebih bisa dipahami oleh masyarakat awam, 3 metode komunikasi dakwah ini adalah metode yang sering diterapkan Rasulullah dalam mensyiarkan islam.
4. Menjadi teladan dalam bertindak
Dalam mensyiarkan islam pelajar perlu menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, karena kepercayaan sangat berpengaruh dalam penyampaian dakwah tidak efektif jika da’i menyampaikan dakwahnya dengan komunikatif tapi tidak diimbangi dengan akhlak yang terpuji, masyarakat jadi sulit percaya dan mempertanya keteladanan da’i tersebut, karena sesungguhnya akhlak yang mulia adalah dakwah tanpa kata-kata
5. Membangun kolaborasi
Membangun kolaborasi dengan IPM, sekolah, maupun komunitas syiar yang dapat mempermudah pelajar ketika mensyiarkan agama melalui program-program edukatif yang memahamkan masyarakat akan keislaman dan memperkuat karakter generasi muda dalam menghadapi arus digitalisasi.
Era digital bukan ancaman bagi dakwah, melainkan ruang perjuangan baru. Ketika generasi muda mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan komunikasi digital, dakwah tidak lagi sekadar terdengar, tetapi juga dipercaya, diterima, dan menggerakkan perubahan. dan dalam tantangan ini kader berperan penting bagi kemajuan dakwah di muhammadiyah sehingga para kader dilatih untuk dapat menuntaskan masalah dengan solusi efektif karena kader yang berkemajuan bukanlah yang mengeluh dan menyerah terhadap masalah melainkan kader yang berkemajuan ialah yang berjuang menuntaskan permasalahan itu dengan solusi efektif yang inovatif, yang Pada akhirnya dengan solusi efektif yang aplikasikan oleh kader yang kreatif, syiar islam jadi dapat disebarluaskan secara santun, dan materi dapat tersampaikan kepada pendengar dengan santun, mudah dipahami, dan menjangkau masyarakat luas serta berdampak positif bagi masyarakat.
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” — K.H Ahmad Dahlan
