Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Kadisya Wandansari Putri, Aktivis IPM Gantiwarno

LPCR.OR.ID – Kota sering kali dinilai dari kemegahan infrastrukturnya: gedung-gedung langit yang menjulang, jaringan transportasi yang rumit, atau pusat perbelanjaan yang gemerlap. Namun, fondasi kotasejati dari pembangunan yang berkelanjutan tidak terletak pada semen dan baja, tetapi pada manusianya. Dalam teori ekonomi pembangunan, aspek ini dikenal sebagai Modal Manusia (Human Capital)—sebuah investasi kolektif pada pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan masyarakat yang menjadi penggerak utama produktivitas ekonomi dan inovasi di lingkungansosial. 

Tanpa adanya pengembangan human capital yang sepadan, seluruh infrastruktur fisik yang dibangun dengan biaya fantastis mungkin hanya menjadi “benda mati yang tidak fungsional.”Gedung-gedung pintar (smart buildings) tidak akan bisa berjalan optimal tanpa sistem manajerial yang cerdas, jaringan transportasi publik yang modern bisa rusak tanpa budaya tertib penggunanya, dan pusat teknologi akan lumpuh jika masyarakatnya acuh pada literasi digital. Infrastruktur hanya sekedar alat cetak fisik; manusialah inti yang mengoperasikannya. Ketika sebuah kota hanya fokus membangun infrastruktur tetapi mengabaikan jiwanya, kota tersebut sedang mengarah pada disfungsi urban, di mana fasilitas modern menjadi tidak berguna karena tidak ada kapasitas manusia yang siap untuk mengelola dan memanfaatkannya secara aktif.

Yang paling utama, pelajar berperan sebagai agen perubahan sosial dan pendorong literasi masyarakat. Kota yang bisa maju membutuhkan masyarakat yang cerdas dan kritis. Pelajar, dengan akses informasi dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki di tempat belajar seperti sekolah dan universitas, mempunyai sebagian tanggung jawab untuk menyebarkan pengetahuan tersebut ke lingkungan sekitar. Kegiatan sederhana seperti membuat kegiatan Masyarakat membaca, menjadi relawan pengajar di kawasan yang kurang sumber daya seorang pengajar, atau mengedukasi warga tentang pentingnya kesehatan dalam kontribusi nyata. Ketika pelajar turun membantu ke masyarakat, mereka sedang membantu pemerintah kota mengurangi ketimpangan sosial dan memutus rantai kemiskinan struktural melalui jalur pendidikan non-formal. Kota yang ramah dan maju hanya bisa terwujud jika warganya memiliki kesadaran sosial yang tinggi, dan kita seorang pelajar adalah jembatan terbaik untuk membangun kesadaran tersebut.

Tidak kalah penting juga bahwa pelajar sebagai kontrol sosial dan mitra kritis bagi kebijakan pemerintah. Sifat idealisme yang melekat pada jiwa kita sebagai anak muda membuat pelajar memiliki perspektif yang relatif jernih dalam melihat ketimpangan atau kegagalan dalam sebuah pembangunan. Ketika fasilitas publik seperti trotoar rusak, transportasi umum tidak terintegrasi, atau ada kebijakan tata ruang yang merugikan masyarakat kecil, pelajar dapat menyuarakan haltersebut. Di era digital seperti saat ini, advokasi tidak lagi selalu berupa demonstrasi di jalanan. Pelajar dapat memanfaatkan media sosial, seperti dengan membuat petisi daring, atau menulis artikel opini yang konstruktif untuk mengkritik sekaligus memberikan solusi kepada yangmembuat kebijakan. Kritik yang berdasap pada data dan riset akademik dari kalangan pelajar akan membantu pemerintah kota untuk tetap berada di jalur pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Lalu, pembangunan kota yang sukses tidak boleh melupakan akar dari sejarah dan identitasnya. Di era sekarang, di tengah gempuran globalisasi yang membuat estetika kota-kota di dunia menjadi seragam, pelajar memegang peran sebagai penjaga kelestarian budaya. Sebuah kota cepat atau lambat akan kehilangan jiwanya jika identitas lokalnya terkikis. Pelajar dapat mengembangkan seni, bahasa, dan tradisi lokal ke dalam ruang-ruang modern melalui komunitas kreatif, festival seni pelajar, atau pembuatan konten digital yang mempromosikan pariwisata lokal. Dengan bangga menggunakan dan melestarikan warisan budaya lokal, pelajar memastikan bahwa kemajuan ekonomi dan pembangunan kota berjalan selaras dengan kelestarian budayanya. Kota yang maju harus tetap memiliki sebuah karakter yang membedakannya dari kota lain di sekitarnya.

Akhirnya, peran yang paling mendasar tetapi sering terlupakan adalah mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Pembangunan kota jangka panjang membutuhkan sifat kepemimpinan yang matang. Ketika seorang pelajar belajar dengan rajin, menguasai teknologi terbaru, dan mengasah keterampilan insani (soft skills) seperti kepemimpinan dan kemampuan berkolaborasi, mereka sedang berinvestasi untuk masa depan kota tempat tinggal mereka sendiri. Sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, para pelajar inilah yang akan berada di posisi sebagai arsitek, walikota, sosiolog, pengusaha, dan guru yang secara langsung merancang dan mengeksekusi berbagai rancangan pembangunan kota. Keseriusan mereka dalam belajar hari ini adalah jaminan bagi kualitas tata kelola kota di masa depan.

Pertanyaan dasar yang cukup sering muncul dalam perencanaan urban adalah: “Mengapa investasi pada jumlah pelajar jauh lebih menguntungkan jangka panjang bagi sebuah kota disbanding ketika sekadar membangun gedung pencakar langit di kota?”

Jawabannya ada pada sifat dari investasi itu sendiri. Gedung pencakar langit merupakan aset berharga yang mengalami depresiasi (penurunan nilai). Seiring berjalannya waktu, beton dan baja akan menua, membutuhkan biaya perawatan (maintenance cost) yang semakin membengkak, dan teknologinya akan tertinggal dalam beberapa dekade. Sebaliknya, investasi pada pelajar adalah harta yang mengalami apresiasi nilai (terus berkembang) dan menghasilkan efek yang berganda (multiplier effect).

Ketika pemerintah kota memberikan anggaran untuk meningkatkan kapasitas pelajar—melalui pendidikan berkualitas, beasiswa riset, dan pelatihan soft skills—kota tersebut sedang menanam banyak benih inovasi. Gedung pencakar langit hanya bisa menampung beberapa perusahaan. Tetapi, satu generasi pelajar yang cerdas dan visioner mampu melahirkan ribuan gagasan baru, dapat menciptakan lapangan kerja berbasis teknologi, merumuskan solusi atas krisis lingkungan, hingga memperbaiki tata kelola pemerintahan kota itu sendiri di masa depan. 

Gedung pencakar langit tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri pada saat kota mengalami krisis ekonomi atau sosial. Namun, modal manusia (human capital) yang cerdas memiliki resiliensi dan adaptabilitas untuk membawa kota keluar dari krisis keterpurukan pada kota. Membangun fisik tanpa membangun manusia hanya sekedar menciptakan pertumbuhan sesaat yang rawan runtuh. Oleh karena itu, berinvestasi pada pelajar adalah strategi paling strategis; karena struktur fisik terkaya sebuah kota bukanlah gedung yang sampai menembus awan, melainkan kapasitas berpikir warganya yang berkembang dan tidak terbatas. 

Secara keseluruhan, pembangunan sebuah kota adalah sebuah proyek kolosal yang membutuhkan campur tangan seluruh elemen masyarakat. Pelajar, dengan segala pemikiran, kreativitas, dan energi yang mereka miliki, adalah harta terbesar yang dimiliki oleh sebuah kota. Mereka bukan hanya objek yang menunggu untuk dibangun, melainkan subjek aktif yang turut serta membentuk rupa dari kota. Melalui kontribusi di bidang sosial, lingkungan, pengawasan kebijakan, pelestarian budaya, dan peningkatan kapasitas diri, pelajar membuktikan bahwa umur bukanlah halangan untuk membawa sebuah dampak besar. Pemerintah kota dan masyarakat luas harus memberikan sebuah ruang, fasilitas, dan kepercayaan bagi pelajar untuk berinofasi. Sebab, sampai akhir kota di tangan para pelajarlah arah dan masa depan kota tersebut dipertaruhkan.

Bagikan