Seorang tokoh pendiri Muhammadiyah pinggir selatan Kabupaten Lamongan, tepatnya di desa Kakatpenjalin, kecamatan Ngimbang, kabupaten Lamongan sekaligus tokoh penggerak pendidikan Muhammadiyah yaitu Drs. H. Mochamad Maksum, M.Pd. Tokoh penggerak Persyarikatan Muhammadiyah Lamongan Selatan ini terkenal sebagai tokoh yang banyak menghambat gerakan Kristenisasi di daerah selatan seperti di Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Sukorame dan Bluluk.

Mochamad Maksum lahir di desa Kakatpenjalin, kecamatan Ngimbang, Lamongan pada 17 Agustus 1950. Sejak kecil ia dibesarkan tokoh Masyumi di desanya yakni Kadiran dan Sainten, pasangan suami istri yang terkenal kaya dan dermawan. Orang tua Mochamad Maksum yakni Lasiran dan Marsini merupakan petani yang sangat sederhana. Perkawinan  Mochamad Maksum dengan Warmi (muridnya SD di desanya) dikaruniai dua anak. Diantaranya Sri Purwantari Nur Craheni dan Mochammad Cahya Sarjana. Kedua anaknya lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Mochamad Maksum menempuh pendidikan di SD Negeri Wotan Ngimbang, SMP Sediyo Utomo Ngimbang, dan SMA Negeri Lamongan. Sarjana Pendidikan dia tempuh di IKIP PGRI Bojonegoro dan Pascasarjana di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Sebagai PNS, Mochamad Maksum berpengalaman sebagai pendidik SD Negeri di Kecamatan Ngimbang, Kepala SD Negeri Sedangrejo Ngimbang dan Pengawas TK SD Kecamatan Sambeng sampai purnatugas sebagai PNS atau ASN.

Mochamad Maksum sangat peduli pada anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi. Dia mencarikan sekolah, beasiswa, bahkan tempat kerja. Kelebihan Mochamad Maksum dari masa muda sampai menjelang wafat ialah menjalin silaturahmi. Ia termasuk tokoh penggerak yang ulet dan sabar. Ia sangat dekat dengan para Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan. Usianya yang semakin tua tak menyurutkan langkah perjuangannya dengan memperbanyak silaturahmi. Bahkan saat sakit pun dia masih memaksakan diri untuk mendatangi pengajian atau konsolidasi organisasi.

Sebagai tokoh penggerak pendidikan di wilayah Lamongan selatan, kiprah Mochamad Maksum di dunia pendidikan tak diragukan. Ia tidak sekadar menjadi guru tetapi juga mendirikan berbagai lembaga pendidikan. Selain SMK Muhammadiyah 3 Ngimbang, Mochamad Maksum merupakan inisiator berdirinya  SD dan SMP Muhammadiyah Ngimbang. Dia lalu merintis berdirinya Pondok Pesantren Ulul Albab Muhammadiyah di Ngimbang. Mochamad Maksum bekerja keras untuk mencarikan dana dan biaya operasionalnya. Ia bercita-cita di Ngimbang ada kompleks Perguruan Muhammadiyah yang menyatu dengan pondok pesantren dengan bangunan yang megah, termasuk masjidnya.

Sementara di Kecamatan Sambeng, ia juga berperan menjadi motivator berdirinya SD dan SMP Muhammadiyah serta Pondok Pesantren al-Furqon Muhammadiyah Pataan kecamatan Sambeng bersama Hanafi Basri dan kawan-kawannya. Di Cabang Bluluk dan Sukorame, Mochamad Maksum aktif berperan mendorong berdirinya Ranting Muhammadiyah. Untuk meningkatkan sumber daya manusia di daerahnya, Mochamad Maksum agak bersusah-payah membangun jejaring beberapa lembaga perguruan tinggi agar membuka kelas di Ngimbang. Ia bertugas sebagai koordinator, mencari mahasiswa dan sebagai dosen. Apa yang Mochamad Maksum tempuh ini efektif untuk melahirkan para sarjana dengan biaya terjangkau. Termasuk guru-guru yang belum memiliki kelayakan sarjana.

Di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngimbang, Mochamad Maksum menjadi tokoh kunci berdirinya Cabang Muhammadiyah pada tahun 1990. Ia pertama kali menjabat sebagai sekretaris yang diketuai oleh Syahlan Baidowi. Setelah sukses membangkitkan PCM Ngimbang, Mochamad Maksum mendirikan amal usaha Muhammadiyah berupa pendidikan. Yakni SMEA Muhammadiyah yang kini menjadi SMK Muhammadiyah 3 Ngimbang. Ia pertama kali mendapat kepercayaan sebagai kepala sekolah di sana. Sebelumnya, Mochamad Maksum sempat mendirikan dan menjadi kepala Sekolah SMA PGRI namun dia tinggalkan. Gedung sekolah yang didirikan Mochamad Maksum dan kawan-kawan diresmikan oleh Prof. Dr. M. Amien Rais, MA pada 1993 yang diawali dengan pengajian akbar dan konsolidasi. Proses mendatangkan Amien Rais saat itu tidak mudah. Ia harus wira-wiri ke kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan untuk meyakinkan ia bisa menghadirkan Amien Rais.

Di balik sukses menghadirkan Amien Rais untuk meresmikan sekolah yang ia dirikan, ternyata untuk menanggung biaya itu ia harus menggadaikan motor satu-satunya yang dia miliki sebagai alat transportasinya. Karena berimpit kebutuhan sehari-hari dan biaya perjuangan menggerakkan persyarikatan, akhirnya motornya tidak bisa diambil.

Setelah perjuangan panjang dari para tokoh Muhammadiyah Kecamatan Ngimbang, hadirlah kader pemuda Ngimbang yang berasal dari Desa Katar. Beliau adalah Kuspan, S.Pd yang menempuh pendidikan sampai SMA sejak kecil di Surabaya. Saat ini beliau diamanahi menjadi ketua PCM Ngimbang termuda se-Kabupaten Lamongan.