Oleh Nungky Pri Handayanie, S.Pd. *
LPCR.OR.ID — Suatu hari nanti, generasi yang hari ini menghidupkan Muhammadiyah akan menua. Mereka tidak selamanya berada di sekolah, masjid, organisasi, majelis, maupun amal usaha. Akan tiba waktunya tongkat estafet harus berpindah tangan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: siapakah yang akan menerimanya?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan regenerasi kepengurusan. Di balik itu ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah generasi muda hari ini merasa Muhammadiyah cukup dekat dengan kehidupan mereka? Apakah mereka menemukan ruang untuk tumbuh, berkarya, sekaligus mengambil peran di dalamnya?
Fakta menarik pengalaman terdekat yang penulis lihat ketika ada Muhammadiyah di sebuah level cabang akan mengadakan kegiatan Kemah Remaja Masjid se-Cabang yang pesertanya mewakili setiap PRM dan PRA sampai menjelang akhir pendaftaran tidak sedikit PRM dan PRA yang belum mengirim daftar peserta, alasannya hampir sama: sulit merekrut remaja untuk ikut mewakili PRM dan PRA.
Pertanyaan dan fakta di atas semakin terasa penting ketika melihat kehidupan anak muda hari ini.
Mereka tumbuh di zaman yang serba cepat. Dunia ada dalam genggaman. Informasi tidak perlu dicari karena justru datang sendiri melalui layar telepon. Pertemanan dapat dibangun tanpa harus bertemu. Hiburan tersedia sepanjang waktu. Namun, di balik kemudahan itu muncul sebuah paradoks. Anak muda semakin terhubung secara digital, tetapi tidak selalu semakin dekat dengan kehidupan sosial di sekitarnya.
Kita mungkin pernah melihat anak yang lebih mengenal kehidupan seorang influencer daripada kehidupan tetangganya. Lebih hafal tren di media sosial daripada kegiatan di lingkungannya. Lebih nyaman berlama-lama dengan gawai daripada duduk bersama masyarakat dalam sebuah kegiatan.
Tentu tidak tepat jika semua kesalahan diarahkan kepada generasi Z. Mereka memiliki potensi luar biasa: kreatif, cepat belajar, berani menyampaikan pendapat, dan akrab dengan teknologi. Persoalannya bukan pada generasinya, tetapi pada bagaimana potensi tersebut diarahkan dan bagaimana kita dapat mendatangi dunia mereka.
Di sinilah keluarga mempunyai peran yang sangat penting. Tidak sedikit orang tua yang berharap anaknya fokus belajar, mendapatkan nilai baik, kemudian memperoleh pekerjaan yang menjanjikan. Ketika anak ingin aktif dalam organisasi, mengikuti pengajian, kegiatan kepemudaan, atau aktivitas sosial, terkadang muncul kekhawatiran bahwa waktunya akan tersita.
Masyarakat adalah Sekolah Kehidupan
Di masyarakat anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ia belajar bertanggung jawab ketika mendapat amanah. Ia belajar bekerja sama ketika berada dalam kelompok. Ia belajar menghargai perbedaan ketika bertemu dengan berbagai karakter. Ia belajar memimpin ketika dipercaya mengelola kegiatan.
Keterlibatan anak muda dalam masyarakat sesungguhnya bukan sekadar mengisi waktu luang. Di sanalah karakter, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dibentuk.
Sayangnya, ruang pembelajaran semacam itu berhadapan dengan tantangan lain: budaya konsumtif dan gaya hidup hedonis yang begitu mudah masuk melalui media sosial. Anak muda setiap hari disuguhi gambaran tentang keberhasilan yang sering kali diukur dari barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau kehidupan yang berhasil dipamerkan.
Tantangan Kaderisasi
Di tengah situasi tersebut, Muhammadiyah tidak boleh hanya bertanya mengapa anak muda tidak tertarik berorganisasi. Muhammadiyah juga perlu bertanya apakah ruang-ruang kaderisasi yang tersedia sudah cukup menarik, relevan, dan memberi makna bagi kehidupan mereka.
Sejarah Muhammadiyah memberikan pelajaran penting. Sejak KH Ahmad Dahlan, gerakan ini tumbuh melalui keberanian membaca keadaan dan melakukan pembaruan. Generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai penerima warisan, tetapi perlu disiapkan untuk meneruskan dan mengembangkan gerakan.
Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah tidak cukup hanya menghadirkan kegiatan formal, ceramah, atau pelatihan. Kaderisasi harus menjadi proses yang membuat anak muda mengalami, berpikir, berkarya, dan mengambil peran. Di sinilah Muhammadiyah memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar dalam kaderisasi.
Dunia digital juga tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai ancaman. Justru di sanalah generasi muda berada. Muhammadiyah perlu hadir dengan gagasan yang segar. Dakwah, literasi, kreativitas, kewirausahaan, kepedulian lingkungan, dan gerakan sosial dapat dikembangkan melalui ruang digital sekaligus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Kita membutuhkan kader yang mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Kader yang memiliki prestasi tetapi tidak kehilangan kepedulian. Kader yang terbuka terhadap perubahan tetapi tetap memiliki pijakan ideologi.
Kader yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk Muhammadiyah dan masyarakat?”.
Kaderisasi Adalah Menyiapkan Generasi
Sebagai mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2, saya semakin memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar proses menyiapkan pengurus berikutnya. Kaderisasi adalah ikhtiar menyiapkan generasi yang mampu menjaga nilai sekaligus membaca perubahan zaman.
Oleh karena itu, pengkaderan bukan hanya tugas Muhammadiyah. Orang tua perlu memberikan ruang. Sekolah perlu memberikan kesempatan. Masyarakat perlu membuka pintu. Muhammadiyah perlu menyediakan ruang tumbuh bagi generasi muda.
Generasi muda tidak cukup hanya diberi nasihat tentang pentingnya berorganisasi. Mereka perlu diberi kesempatan untuk terlibat, dipercaya, mencoba, bahkan belajar dari kesalahan. Jangan sampai kita baru sibuk mencari kader ketika tongkat estafet sudah berada di depan mata.
Muhammadiyah tidak kekurangan generasi muda. Yang perlu kita perjuangkan adalah agar mereka menemukan alasan mengapa Muhammadiyah layak menjadi bagian dari masa depan mereka.
Generasi muda tidak hanya membutuhkan organisasi yang diwariskan kepada mereka. Mereka membutuhkan gerakan yang memberi ruang untuk menemukan makna, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Kaderisasi hari ini bukan sekadar menyiapkan siapa yang menggantikan kita. Lebih dari itu, kaderisasi adalah menyiapkan siapa yang kelak membawa Muhammadiyah menjawab persoalan zaman yang belum pernah kita bayangkan.
Masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kader yang berhasil kita rekrut hari ini, tetapi oleh seberapa kuat kita menyiapkan generasi yang mampu meneruskan nilai, mengembangkan gerakan Muhammadiyah, dan menghadirkan jawaban bagi tantangan zamannya.
Tongkat estafet pasti akan berpindah tangan. Persoalannya bukan apakah tongkat estafet akan berpindah, tetapi kepada siapa dan dengan bekal seperti apa kita menyerahkan tongkat estafet itu.
* Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM DIY
