Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Raina Uli Ghaniyya*

LPCR.OR.ID – Isu kesenjangan pendidikan selama ini kerap dipandang sebagai persoalan makro yang hanya bisa diselesaikan melalui kebijakan struktural pemerintah. Namun, sebuah realitas mendasar di dalam kelas sering kali terabaikan: kesenjangan capaian belajar nyata terjadi di antara siswa yang duduk di bangku yang sama dan diajar oleh guru yang sama. Perbedaan latar belakang sosial-ekonomi—seperti akses bimbingan belajar, ketersediaan internet, hingga keharusan bekerja membantu orang tua—menciptakan jurang pemisah yang lebar di antara sesama pelajar.

Melihat fakta tersebut, pendekatan pendidikan perlu menggeser pandangan terhadap peserta didik. Pelajar tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai objek pasif dari kebijakan sekolah. Mereka memiliki potensi besar untuk didorong menjadi agen aktif yang menumbuhkan empati serta memperjuangkan kesetaraan belajar, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat luas.

Empati sebagai Keterampilan yang Dapat Dipelajari

Gagasan mengenai pentingnya peran pelajar sebagai penggerak empati berlandaskan pada fakta psikologi pendidikan bahwa empati bukanlah sifat bawaan yang statis. Empati merupakan kemampuan sosial-emosional yang dapat dilatih dan dikembangkan melalui habituasi serta interaksi konsisten.

Melalui metode pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, dan program inklusi yang melibatkan pelajar dari bermacam latar belakang akademik maupun sosial-ekonomi, rasa toleransi dapat ditumbuhkan secara bertahap. Pembiasaan ini terbukti efektif menekan angka diskriminasi dan membangun penerimaan sosial di lingkungan sekolah. Modal sosial berupa empati yang diasah di dalam kelas inilah yang kelak dibawa siswa saat berinteraksi di lingkungan kemasyarakatan.

Solidaritas Horizontal dan Dukungan Sebaya

Kedua, kesadaran empatik para siswa dapat diwujudkan secara nyata melalui mekanisme dukungan sebaya (peer support). Berdasarkan konsep Zone of Proximal Development dari Lev Vygotsky, proses belajar berlangsung sangat optimal ketika seseorang dibimbing oleh teman sebayanya yang sedikit lebih kompeten dalam suasana yang komunikatif dan tidak mengintimidasi.

Pendekatan tutor sebaya mampu memangkas jarak pemahaman tanpa menghadirkan sekat hierarki atau rasa takut dihakimi yang kerap dirasakan murid saat berhadapan langsung dengan guru. Lebih jauh, ketika pelajar dari keluarga mampu bersedia membagikan fasilitas belajar, dokumen catatan, hingga meluangkan waktu pendampingan bagi rekannya yang kurang beruntung, mereka sedang meruntuhkan tembok kesenjangan akses secara langsung melalui solidaritas horizontal.

Pendidikan Pembebasan dan Gerakan Sosial

Ketiga, transformasi pelajar dari pilar di dalam kelas menjadi agen perubahan sosial merupakan wujud nyata dari konsep pendidikan sebagai praktik sosial. Mengutip pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan, proses belajar sejati harus melahirkan kesadaran kritis (critical consciousness) yang mendorong individu untuk beraksi melawan ketidakadilan di sekitarnya, bukan sekadar menyerap informasi pengetahuan secara pasif.

Ketika nilai kesetaraan telah terinternalisasi, para pelajar secara alami membawa semangat tersebut ke luar tembok sekolah. Manifestasinya terlihat dari maraknya gerakan literasi berbasis pemuda, aksi sukarelawan, hingga kampanye kesetaraan akses pendidikan yang disuarakan melalui media sosial. Ini membuktikan bahwa kapasitas empati pelajar bersifat dinamis dan berdampak nyata bagi ruang publik.

Secara keseluruhan, peran strategis pelajar sebagai agen empati dan kesetaraan belajar bergerak secara bertahap: bermula dari pembentukan keterampilan sosial-emosional di dalam kelas, menguat melalui mekanisme tutor sebaya, dan mewujud menjadi gerakan sosial berbasis kesadaran kritis. Capaian akademik semata tidak akan cukup untuk mencetak generasi yang adil tanpa disertai penanaman empati yang terstruktur. Oleh sebab itu, ekosistem pendidikan sudah saatnya merancang kurikulum yang memberi ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mempraktikkan nilai solidaritas secara nyata.

* Lulusan Pondok pesantren Muhammadiyah Boarding School, Mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negri Yogyakarta. Aktif di PD IPM Sleman.

Bagikan