Tunjukkan Karya Cabang Ranting-mu, menangkan hadiah puluhan juta rupiah!

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

LPCR.OR.ID, Semangat tajdid (pembaharuan) dan internalisasi ideologi Al-Ma’un yang menjadi core movement persyarikatan Muhammadiyah kembali memanifestasikan wujudnya secara konkret. Menjawab jeritan kekeringan yang melanda kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Pandeyan menggelar aksi ideologis bertajuk Baksos Air Bersih pada Ahad, 6 September 2026. Aksi dakwah bil-hal (dakwah dengan perbuatan nyata) ini dipusatkan di Pondok Pesantren Ainul Yaqin, Pedukuhan Karangtengah, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul.

Bagi gerak langkah kader perempuan berkemajuan PRA Pandeyan, tanah berbatu Kapanewon Tepus bukanlah wilayah yang asing. Kunjungan kemanusiaan ini layaknya sebuah ikatan historis dan spiritual yang terus dirawat. Kerinduan mendalam terhadap subjek dakwah terpancar jelas dari ungkapan tulus Siti Budiyati, salah seorang tokoh PRA Pandeyan, “Kangen dengan anak-anak,” ujarnya hangat. Anak-anak yang dimaksud adalah para santri di Pondok Pesantren Ainul Yaqin. Lembaga pendidikan islam ini memang mendedikasikan penuh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk fokus mengasuh serta mendidik anak-anak berkebutuhan khusus (ABK)—sebuah model dakwah inklusif yang menjadi perhatian utama Aisyiyah dalam pilar kesejahteraan sosial.

Jihad Kemanusiaan: Mengatasi Krisis Air dan Beban Operasional Pesantren

Aksi sosial kemasyarakatan ini lahir dari keprihatinan kolektif atas krisis air bersih menahun yang kembali mendera wilayah Gunungkidul. Berdasarkan penuturan Sri Budiningsih, salah seorang kader PRA Pandeyan yang terlibat penuh dalam kepanitiaan, kondisi pemenuhan hajat hidup air bersih di pesantren tersebut sedang menghadapi kendala operasional yang sangat serius.

“Tahun ini debit air Bribin tidak maksimal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, pihak ponpes harus membeli air dari armada tangki swasta sebanyak 4 hingga 6 tangki setiap harinya. Tentu ini menjadi beban operasional yang sangat besar bagi pesantren,” ungkap Sri Budiningsih menjabarkan realitas di lapangan.

Merespons kesulitan tersebut, dengan mengobarkan semangat ta’awun (tolong-menolong) untuk kemaslahatan umat, PRA Pandeyan bergerak taktis menghimpun dana kebajikan. Melalui jaringan warga persyarikatan dan simpatisan, terkumpul bantuan total sebanyak 180 tangki air bersih yang diserahkan demi menyambung urat nadi kehidupan di komplek pesantren dan masyarakat sekitarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ainul Yaqin, Abi Isma, menyampaikan rasa takzim dan syukurnya atas kepedulian nyata dari keluarga besar Aisyiyah. Kebutuhan air di pesantren ini tergolong sangat besar dan kompleks. Selain difungsikan untuk keperluan bersuci (wudu), memasak, dan sanitasi harian ratusan santri berkebutuhan khusus, air tersebut juga dialokasikan untuk sektor ketahanan pangan mandiri pesantren. Pihak pondok secara berkala harus membawa beberapa tangki air ke area griya ternak demi memberi minum sekitar 50 ekor sapi dan kambing peliharaan ponpes. Bantuan air dari Aisyiyah ini secara langsung memotong beban operasional finansial yang selama ini menghimpit kas operasional pesantren.

Sinergi Struktural dan Penguatan Ideologi Gerakan

Misi kemanusiaan ekstensif ini dipimpin langsung oleh Ketua PRA Pandeyan, Ellyza Noor. Menunjukkan soliditas organisasi yang mapan, rombongan besar ini bertolak dari Yogyakarta dengan menggunakan tiga unit bus. Menariknya, cerminan sinergi struktural persyarikatan sangat terasa di mana satu bus di antaranya diisi penuh oleh jajaran pengurus Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Umbulharjo yang turut menyokong penuh agenda strategis rantingnya.

Menegaskan identitas gerakan Muhammadiyah yang tidak memisahkan antara pemenuhan aspek sosial (karitatif) dan penguatan akidah (teologis), agenda baksos ini dirangkai integral dengan kegiatan pengajian terpadu. Di bawah keteduhan kompleks pesantren, para kader Aisyiyah, pengurus ponpes, beserta warga sekitar duduk bersama dalam satu majelis ilmu. Format dakwah kultural ini membuktikan bahwa Aisyiyah senantiasa konsisten membawa misi pemurnian ibadah sekaligus penuntasan problem sosial masyarakat secara beriringan.

Rihlah Tadabbur Alam: Menatap Keagungan Ciptaan-Nya di Goa Cinta

Usai prosesi penyerahan bantuan air bersih dan pengajian rampung dilaksanakan, kafilah dakwah Aisyiyah melanjutkan agenda dengan rihlah (rekreasi) islami berupa tadabbur alam ke destinasi wisata lokal yang berdekatan dengan lokus pesantren, yaitu objek wisata Goa Cinta.

Destinasi alam eksotis khas bentang alam karst Gunungkidul ini terus bersolek dari waktu ke waktu. Sri Budiningsih menuturkan kekagumannya terhadap dinamika perkembangan Goa Cinta yang kian representatif dan bernilai ekonomi bagi warga lokal. “Dari waktu ke waktu mengalami perubahan dan semakin indah, apalagi sekarang tersedia homestay dengan ruang ber-AC,” tuturnya memuji pengelolaan kawasan tersebut.

Secara geografis dan geologis, Goa Cinta memiliki karakteristik unik karena terdiri dari 3 kompleks goa. Salah satu goa di antaranya memiliki bentangan ruang (chamber) yang cukup luas di bagian dalam, sehingga kerap dimanfaatkan sebagai tempat rapat, sarasehan, atau pertemuan besar bernuansa alam di dalam perut bumi. Rihlah ini menjadi ruang refreshing yang sehat sekaligus sarana membaca ayat-ayat kauniyah Allah SWT.

Spiritualitas yang Menggembirakan: Komunikasi Hangat Antar-Kader

Di balik suksesnya mobilisasi dakwah lapangan ini, potret kegembiraan dan kehangatan khas relasi kader Aisyiyah sudah berdenyut sejak masa persiapan teknis. Melalui ruang koordinasi santai di grup WhatsApp resmi PRA Pandeyan, dinamika kepanitiaan berjalan cair namun tetap terukur demi mempersiapkan kondisi fisik menembus perbukitan Gunungkidul.

“Ayo besok naik-naik ke puncak gunung,” tulis Sri Budiningsih membakar semangat korps Aisyiyah.

“Siap sepatu kets,” sahut Ketua PRA Pandeyan, Ellyza Noor, menambahkan instruksi taktis lapangan demi keselamatan pergerakan kader.

“Kalau punya bawa tongkat Nordik, lebih nyaman,” timpal Ella Sarsella memberikan rekomendasi logistik praktis mengingat medan perbukitan dan goa yang akan diarungi.

Melalui perpaduan apik antara baksos 180 tangki air bersih, pengajian ideologi, dan rihlah tadabbur alam, PRA Pandeyan telah mempraktikkan model gerakan dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan. Inilah bukti otentik bahwa di tangan perempuan berkemajuan Aisyiyah, agama hadir tidak sekadar sebagai dogma teks, melainkan air kesejukan yang mengalirkan kebaikan dan kebahagiaan sejati bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

Bagikan