Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Masdum Mustaqwa*

LPCR.OR.ID – Perkembangan industri modern telah membawa kemajuan luar biasa bagi kehidupan manusia. Produksi yang semakin efisien, teknologi yang semakin canggih, serta distribusi yang semakin cepat telah meningkatkan kualitas hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun, di balik kemajuan tersebut, dunia juga menghadapi berbagai tantangan serius, berupa kerusakan lingkungan, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, serta ketimpangan sosial-ekonomi.

Dalam konteks ini, konsep Green Industry dan Sustainability hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan sosial. Bagi seorang Muslim, upaya membangun industri yang berkelanjutan sesungguhnya bukan sekadar tuntutan profesional, melainkan bagian dari amanah keagamaan. Nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan memberikan landasan moral yang kuat untuk mewujudkan sistem industri yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh (pemimpin dan pengelola bumi). Amanah ini mengandung tanggung jawab untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana, bukan mengeksploitasinya secara berlebihan.

Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini memberikan pesan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk aktivitas industri, harus diarahkan untuk menjaga keseimbangan dan menghindari kerusakan (fasad). Industri yang menghasilkan limbah berlebihan, mencemari lingkungan, atau menguras sumber daya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan bertentangan dengan prinsip tersebut.

Sebaliknya, Green Industry berupaya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan melalui efisiensi energi, pengurangan limbah, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Dengan demikian, penerapan industri hijau merupakan salah satu bentuk aktualisasi peran manusia sebagai khalifah yang menjaga amanah Allah SWT.

Teknik Industri dan Nilai Ihsan dalam Pekerjaan

Dalam Islam, setiap pekerjaan dituntut untuk dilakukan dengan prinsip ihsan, yaitu memberikan hasil terbaik secara profesional dan bertanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan profesional).” (HR. Thabrani)

Prinsip ini sejalan dengan filosofi Teknik Industri yang selalu berupaya melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Berbagai pendekatan seperti Lean Manufacturing, Six Sigma, Kaizen, dan Quality Management pada dasarnya bertujuan menciptakan proses yang lebih efektif, efisien, dan berkualitas.

Bila dikaitkan dengan nilai Islam, efisiensi bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral untuk menghindari pemborosan (israf). Setiap bahan baku yang terbuang, energi yang digunakan secara tidak perlu, atau proses yang tidak produktif merupakan bentuk ketidaksempurnaan dalam mengelola amanah.

Sustainability dan Larangan Berlebih-lebihan

Islam mengajarkan keseimbangan (tawazun) dalam seluruh aspek kehidupan. Al-Qur’an secara tegas melarang sikap berlebih-lebihan dalam memanfaatkan sumber daya.

Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Nilai ini sangat relevan dengan konsep sustainability yang menekankan penggunaan sumber daya secara efisien agar tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Dalam dunia industri, prinsip tersebut dapat diwujudkan melalui:

  • Pengurangan limbah produksi.
  • Efisiensi penggunaan energi dan air.
  • Pemanfaatan material yang dapat didaur ulang.
  • Pengembangan ekonomi sirkular (circular economy).
  • Pengurangan emisi karbon dan polusi.

Dengan demikian, sustainability bukan sekadar strategi bisnis, tetapi juga implementasi ajaran Islam tentang hidup sederhana, bertanggung jawab, dan menjaga keseimbangan alam.

Perspektif Kemuhammadiyahan: Islam Berkemajuan

Muhammadiyah sejak awal berdirinya dikenal sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada kemajuan (Islam Berkemajuan). Dalam berbagai keputusan dan pemikirannya, Muhammadiyah menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.

Konsep Green Industry sangat sejalan dengan visi Islam Berkemajuan karena menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.

Muhammadiyah juga menekankan pentingnya pembangunan yang berkeadilan, berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, transformasi menuju industri hijau bukan hanya agenda ekonomi, melainkan bagian dari dakwah sosial yang menghadirkan manfaat nyata bagi umat.

Industri sebagai Sarana Mewujudkan Kemaslahatan

Dalam perspektif Islam, keberhasilan sebuah sistem tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat luas.

Konsep maslahah mengajarkan bahwa setiap kebijakan dan aktivitas harus memberikan manfaat serta menghindarkan mudarat. Industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga lingkungan, dan menghasilkan produk yang bermanfaat merupakan wujud nyata dari kemaslahatan tersebut.

Di sinilah Teknik Industri memiliki peran strategis. Dengan pendekatan sistem yang dimilikinya, Teknik Industri mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang. Para insinyur industri tidak hanya bertugas meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi juga memastikan bahwa proses yang dirancang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan alam.

Menjadi Insinyur Industri yang Berkemajuan

Era keberlanjutan menuntut lahirnya generasi insinyur yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan spiritual. Seorang insinyur industri Muslim perlu memandang pekerjaannya sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketika merancang sistem yang lebih efisien, ia sedang mengurangi pemborosan. Ketika mengembangkan proses yang lebih ramah lingkungan, ia sedang menjaga amanah Allah. Ketika menciptakan inovasi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ia sedang menghadirkan kemaslahatan.

Dengan cara pandang seperti ini, Green Industry dan Sustainability tidak lagi sekadar konsep manajemen modern, melainkan manifestasi dari nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam dunia industri.

Masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga keberlanjutan kehidupan. Green Industry dan Sustainability menawarkan jalan untuk mencapai keseimbangan tersebut.

Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, menjaga lingkungan, menghindari pemborosan, mengembangkan inovasi yang bermanfaat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat merupakan bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, upaya membangun industri yang hijau dan berkelanjutan bukan hanya kebutuhan ekonomi, tetapi juga panggilan moral dan spiritual.

Karena pada akhirnya, kemajuan yang sejati bukanlah kemajuan yang menghabiskan bumi, melainkan kemajuan yang menghadirkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kelestarian ciptaan Allah SWT.

*Dosen Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Cirebon

Bagikan