Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

Oleh: Yudaningsih*

LPCR.OR.ID – Berbicara tentang fenomena “Login Muhammadiyah”, perhatian saya tertuju pada sebuah artikel yang ditulis oleh Irfan Sholahuddin Gozali, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Melalui tulisannya berjudul “Fenomena Login Muhammadiyah: Siapkah Kita Menyambutnya? Evaluasi Kesiapan Kaderisasi Muhammadiyah”, yang dimuat oleh Redaksi LPCR pada 29 Maret 2026, Irfan mengajak warga Persyarikatan melihat fenomena ini dengan cara yang lebih jernih. Baginya, ramainya istilah Login Muhammadiyah di media sosial bukan sekadar tren digital yang layak dirayakan, melainkan momentum untuk menguji sejauh mana kesiapan kaderisasi Muhammadiyah dalam menyambut masyarakat yang mulai menaruh simpati dan ingin mengenal Persyarikatan lebih dekat.

Pandangan tersebut menarik, sebab sesungguhnya fenomena Login Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang bertambahnya minat publik terhadap Muhammadiyah. Di balik istilah yang terdengar ringan itu, tersimpan perubahan sosial yang jauh lebih mendasar: perubahan cara masyarakat menemukan, mengenal, dan membangun kedekatan dengan identitas keagamaan.

Jika beberapa dekade lalu seseorang mengenal organisasi Islam karena lahir dari keluarga tertentu, tumbuh di lingkungan warga Muhammadiyah, atau rutin mengikuti pengajian di kampungnya, kini jalan itu telah berubah. Banyak orang justru pertama kali mengenal Muhammadiyah melalui layar telepon genggam. Mereka dipertemukan dengan ceramah, diskusi, konten pendidikan, aktivitas filantropi, hingga gagasan Islam Berkemajuan yang terus bermunculan di beranda media sosial. Tanpa pernah merasa direkrut atau diajak secara langsung, perlahan tumbuh rasa akrab terhadap nilai-nilai Muhammadiyah. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian berkelakar, “Sepertinya saya sudah login Muhammadiyah.”

Ungkapan sederhana itu sesungguhnya mencerminkan perubahan besar dalam lanskap dakwah dan keberagamaan. Ia menunjukkan bahwa pada era digital, jalan seseorang menuju sebuah gerakan keagamaan tidak selalu dimulai dari mimbar masjid atau ruang pengajian, melainkan dari algoritma yang mempertemukan mereka dengan gagasan-gagasan yang dianggap relevan dengan pencarian makna hidupnya.

Penulis mencermati, saat ini banyak anak muda mengenal Muhammadiyah bukan lagi dari mimbar masjid, melainkan dari layar telepon genggam. Mereka menemukan ceramah, kutipan tokoh, konten edukasi, video singkat, hingga diskusi keislaman melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital. Dari sanalah muncul istilah yang kini ramai diperbincangkan: “Login Muhammadiyah.”

Istilah ini memang terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun di baliknya tersimpan perubahan sosial yang sangat besar. “Login” bukan sekadar mengikuti tren media sosial, tetapi menggambarkan proses seseorang mulai merasa dekat dengan nilai, cara berpikir, dan budaya Muhammadiyah sebelum ia benar-benar mengenal organisasi tersebut secara langsung.

Dalam konteks ini, tulisan Irfan Sholahuddin Gozali yang mengajak Muhammadiyah mengevaluasi kesiapan kaderisasi patut diapresiasi. Pertanyaan “siapkah kita menyambut mereka?” bukan sekadar pertanyaan organisatoris, melainkan pertanyaan tentang masa depan dakwah Islam di era digital.

Kita tidak bisa menafikan jika media sosial telah mengubah hampir seluruh pola kehidupan manusia, termasuk cara seseorang mencari pengetahuan agama. Bahkan algoritma telah mengubah cara orang beragama.

Jika dahulu seseorang harus datang ke majelis taklim untuk mengenal sebuah organisasi Islam, kini algoritma justru yang mempertemukan keduanya. Seseorang dapat mengenal Muhammadiyah melalui potongan video tentang fikih, kesehatan, pendidikan, toleransi, atau pemikiran Islam berkemajuan yang muncul berulang kali di berandanya.

Tanpa disadari, algoritma digital telah menjadi “ruang perjumpaan” baru antara masyarakat dengan dakwah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritas keagamaan tidak lagi dibangun semata-mata melalui ruang fisik, tetapi juga melalui ruang digital. Reputasi sebuah organisasi hari ini dibentuk oleh kualitas gagasan yang beredar di internet.

Dalam arti tertentu, media sosial telah menjadi pintu dakwah terbesar abad ini.

Namun perjalanan seseorang tidak berhenti ketika ia menekan tombol “follow” atau mulai menyukai konten Muhammadiyah.

Cepat atau lambat, rasa ingin tahu itu akan berubah menjadi keinginan untuk hadir secara nyata.

Di titik inilah tantangan sebenarnya dimulai.

Apa yang selama ini mereka lihat di media sosial akan dibandingkan dengan pengalaman nyata ketika datang ke pengajian, bertemu pengurus ranting, mengikuti kegiatan cabang, atau berinteraksi dengan kader Muhammadiyah.

Apabila keduanya selaras, lahirlah kepercayaan.

Sebaliknya, jika citra digital yang modern bertemu pelayanan yang tertutup, komunikasi yang kaku, atau organisasi yang tidak responsif, maka rasa kagum itu dapat berubah menjadi kekecewaan.

Karena itu, fenomena Login Muhammadiyah sesungguhnya bukan sekadar ujian bagi tim media sosial, melainkan ujian bagi seluruh ekosistem organisasi.

Di satu sisi, generasi Z sering kali dianggap mudah berpindah minat. Padahal yang mereka cari sebenarnya cukup sederhana.

Mereka mencari komunitas yang memberi makna.

Mereka ingin didengar.

Mereka ingin bertumbuh.

Mereka ingin memiliki ruang belajar tanpa merasa dihakimi.

Mereka ingin organisasi yang mampu menjelaskan ajaran Islam secara rasional sekaligus relevan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Tradisi tajdid, pendidikan yang kuat, pelayanan kesehatan, gerakan sosial, hingga semangat Islam Berkemajuan merupakan kekayaan yang sangat relevan dengan tantangan zaman.

Namun semua itu hanya akan dirasakan apabila mampu diterjemahkan menjadi pengalaman organisasi yang ramah, terbuka, dan membina.

Tulisan Irfan menegaskan pentingnya kaderisasi yang berjenjang. Gagasan itu sangat tepat.

Namun mungkin sudah saatnya paradigma kaderisasi diperluas.

Hari ini, masyarakat tidak selalu datang melalui jalur formal organisasi. Banyak yang lebih dahulu menjadi “jamaah digital” sebelum akhirnya ingin menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Artinya, proses kaderisasi perlu diawali dengan pendampingan.

Bukan sekadar mengajak bergabung, tetapi menemani proses belajar.

Bukan sekadar menawarkan struktur, tetapi membangun relasi.

Bukan sekadar memberikan jabatan, tetapi menumbuhkan pemahaman.

Organisasi yang berhasil di era digital bukanlah organisasi yang paling banyak memiliki anggota, melainkan organisasi yang paling mampu membuat orang merasa diterima, dihargai, dan bertumbuh.

Di media sosial, siapa pun bisa “login” hanya dalam hitungan detik.

Namun bertahan dalam sebuah gerakan membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Diperlukan pembinaan.

Keteladanan.

Persahabatan.

Konsistensi.

Dan yang paling penting adalah budaya organisasi yang hidup.

Karena pada akhirnya orang tidak hanya bergabung dengan ide besar, tetapi juga dengan manusia-manusia yang menjalankan ide tersebut.

Fenomena Login Muhammadiyah adalah kabar baik. Sebuah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Ia menunjukkan bahwa dakwah Islam Berkemajuan semakin dikenal, terutama oleh generasi digital.

Namun momentum ini tidak boleh hanya dirayakan sebagai kemenangan citra. Ia harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat kualitas pelayanan organisasi, memperbarui pola kaderisasi, serta membangun budaya yang semakin inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Muhammadiyah telah berhasil menarik perhatian publik.

Kini tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap orang yang datang menemukan rumah yang nyaman untuk belajar, bertumbuh, dan mengabdi.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya banyaknya orang yang mengetuk pintu.

Melainkan berapa banyak yang akhirnya memilih tinggal, bertumbuh, dan bersama-sama menyalakan cahaya kemajuan.

Mungkin, inilah makna terdalam dari fenomena “Login Muhammadiyah”: bukan sekadar orang masuk ke dalam organisasi, tetapi bagaimana organisasi mampu terus membuka diri tanpa kehilangan jati dirinya.

Di era algoritma, dakwah tidak lagi hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan nilai Islam sebagai pengalaman yang nyata dalam kehidupan masyarakat.

*) Penulis adalah Pengurus Majlis Pembinaan Kader PW ‘Aisyiyah Jabar, MPI PWM Jabar dan ICMI Orda Kota Bandung. Penulis sedang melanjutkan studi S3 Konsentrasi Agama dan Media di UIN SGD Bandung

Bagikan