Dapatkan berita terbaru Cabang, Ranting dan Masjid Muhammadiyah di WhatsApp

Q
Logo Lpcr New

Kantor Jogja

Jalan KH. Ahmad Dahlan
No. 103 Yogyakarta 55262

Hubungi Kami

(0274) – 375025
0857 2963 8181 (WA)

LPCR.OR.ID – PURBALINGGA – Rabu 27 Mei 2026 Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta) Program Studi Gizi melakukan kegiatan kurban di Masjid Jami’ Nurul Muttaqin yang berada di Kedungori, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebagai bagian dari Program Fikih Hijau dalam mata kuliah IPTEK, mahasiswa turun langsung membantu panitia kurban dalam proses pembungkusan daging sapi yang akan didistribusikan kepada masyarakat.

Kegiatan penyembelihan hewan kurban berlangsung di halaman masjid setelah pelaksanaan Shalat Idul Adha sekitar pukul 08.00, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 H. Hewan kurban yang disembelih terdiri dari tiga ekor sapi. Usai proses penyembelihan dan pemotongan selesai, daging kemudian dikemas menggunakan plastik sebelum didistribusikan kepada warga sekitar.

Mahasiswa terlibat langsung dalam proses pembungkusan daging bersama anggota panitia kurban masjid. Proses pembungkusan dimulai dengan memilah potongan daging sapi sesuai bagian yang telah ditentukan panitia. Setiap bungkusan kemudian diisi dengan potongan daging dalam takaran yang merata sebelum dikemas rapat menggunakan plastik. Bungkusan-bungkusan itu dikumpulkan dalam karung, dan setelah Shalat Zuhur, daging mulai dibagikan kepada warga. Totalnya lebih dari 500 orang yang menerima daging kurban hari itu.

Dari sudut pandang keamanan pangan, mahasiswa mencatat beberapa hal yang patut diapresiasi sekaligus menjadi bahan evaluasi adalah plastik yang digunakan sudah merupakan plastik food grade warna putih, bukan plastik kresek hitam biasa. Ini penting karena plastik hitam itu mengandung pewarna yang berbahaya dan tidak boleh bersentuhan langsung dengan makanan. Jadi dari sisi pemilihan kemasan, panitia sudah membuat keputusan yang tepat.

Namun, sebagai mahasiswa gizi yang tengah belajar tentang keamanan pangan dan sistem halal, saya tidak bisa menutup mata dari beberapa hal yang saya lihat dan menurut ilmu yang saya pelajari, masih perlu diperbaiki.

Pertama, soal kehalalan proses penyembelihan. Secara syariat, prosesnya sudah memenuhi syarat dasar: hewan yang disembelih halal, waktu penyembelihan sudah benar yakni setelah Shalat Idul Adha, dan dilakukan dengan menyebut nama Allah

Kedua, soal keamanan pangan saat pembungkusan. Di sinilah saya merasa banyak belajar, sekaligus paling banyak menemukan hal yang tidak sesuai dengan standar yang kami pelajari di kelas, khususnya prinsip HACCP.

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) merupakan sistem pengendalian bahaya yang memastikan keamanan pangan dari risiko biologis, kimia, maupun fisik. Salah satu hal paling mendasar dalam sistem ini adalah mencegah kontaminasi sejak awal. Selama proses pembungkusan kemarin, panitia tidak menggunakan sarung tangan maupun masker sama sekali. Tangan langsung memegang daging tanpa pelindung. Padahal, tangan kita bisa menjadi sumber bakteri yang berpindah ke daging tanpa kita sadari. Masker juga penting untuk mencegah percikan dari mulut atau hidung masuk ke makanan.

Untuk kegiatan kurban berikutnya, sebaiknya panitia menyediakan sarung tangan plastik sekali pakai dan masker bagi setiap orang yang terlibat dalam proses pembungkusan daging. Harganya murah dan mudah didapat, tapi manfaatnya sangat besar karena bisa mencegah bakteri dari tangan atau percikan dari mulut masuk ke daging yang akan dikonsumsi banyak orang.

Kegiatan ini merupakan implementasi Program Fikih Hijau yang menghubungkan nilai ibadah dengan kepedulian terhadap keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Melalui keterlibatan langsung di tengah kegiatan kurban masyarakat dapat memperkuat hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan kehidupan nyata di sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, saya berharap pengalaman terjun langsung ke masyarakat dapat menjadi bekal berharga dalam menerapkan ilmu gizi dan keamanan pangan secara nyata, sekaligus mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi selama masa perkuliahan di UNISA Yogyakarta.

Kontributor: Apriliani*

Bagikan